Posts from the ‘Setengah Baya’ Category

Seminggu dengan tante

Sore itu, Aku ( sebut aja Adam ) jalan ke sebuah mal untuk beli baju. Sesampainya di counter pakaian, Aku memilih – milih baju, setelah mendapatkan baju yang kuinginkan, Aku menuju ke kasir.

Disaat hendak membayar ke kasir, tiba-tiba ada suara wanita dari sebelahku nyeletuk ke kasir, ” Mbak, tolong sekalian punya saya dihitung, biar saya yang bayar”.

Singkat aja dari kejadian itu kita kenalan, kemudian Aku diajak tante Ana makan di salah satu satu kafe di mal itu. Setelah makan, Aku diajak Tante Ana ke rumahnya yang mewah, sesampainya di dalam rumah Aku dipersilahkan duduk. Adam, tante mandi dulu ya… silahkan tante jawabku.

Sekitar 5 menit ada suara dari arah kamar mandi memanggilku, yang tak lain adalah Tante Ana. Adam, tolong kesini… Tante mau minta tolong. Ada apa Tante? Tanyaku. Ini Adam, Tante tolong dilulurin… sambil memberikan lulur scrub kepadaku. Pertama kululurin bagian punggungnya dan sambil kupijit. ehhmmm … enak sekali Adam pijatanmu,

Kemudian Tante Ana membalikkan badannya, kemudian pemandangan yang indah ternyata muncul juga. kulihat buah dada Tante Ana yang putih dan montok tepat di depanku. Tanpa pikir panjang lagi, langsung kuhampiri susu Tante Ana yang putih dan montok itu dan langsung kujilati.

Ooohhh… enaaakkk sayang. Terus kujilati sampai ke bawah dan sesampainya di lubang kenikmatan, langsung kujilati vagina Tante Ana, dan terlihat itil Tante Ana yang udah memerah.

“Oouuhhh… sayaangggku, teruskan sayang… nikmat sekali rasanya” kata Tante Ana sambil memegangi kepalaku dan menggeliat – geliat keenakan. Setelah itu gantian Aku yang dilahap habis oleh Tante Ana, dijilatinya seluruh tubuhku dari atas sampai bawah, baik pada bagian depan maupun belakang. Sesampainya di penisku, Tante Ana bilang “Wow… besar sekali sayang, pasti enak nich, untuk Tante ya”. Setelah itu dipegangnya penisku, lalu dimasukkannya ke dalam mulut, lalu di kulumnya dengan semangat, selain itu dijilatinya juga anusku sampai basah. “Ouuucchhhhh… oooohhhhhh… ohhhhh… enaaakk tanteee… ” Dan ” jrooottt… jroott… jrrooottt, keluarlah air maniku di dalam mulut Tante Ana, dan disedotnya terus air maniku sampai habis.

“Ehhmmm… segar sekali air manimu sayang, kata Tante Ana sambil terus menyedot penisku sampai penisku tegang lagi. Para pembaca bisa membayangkan, gimana rasanya setelah keluar air mani, masih terus disedot sampai penis tegang lagi. Ehhmmm… pasti sungguh nikmat khan. Setelah itu, dipegang dan diarahkannya penisku ke lubang vagina Tante Ana. “Ayo sayanggg… cepat masukkan sayanggg, Tante udah nggak tahan nich… ” Langsung aja kumasukkan penisku yang udah menegang sejak tadi.

Oohhh… eennaakk sayaanngg… teruss sayaanngg… oohhhhh… ooohhhh. Kugenjot terus penisku di dalam vagina Tante Ana, sampai Tante Ana kelonjotan. Setelah kugenjot sekitar 10 menit, Tante Ana mendesah “Ooouucchhhh sssaayang… tante mau keluar nih… terus saayangg… ” Kugenjot terus dan diimbangi dengan goyangan pinggul Tante Ana yang membuat Aku pingin keluar juga.

Dan ” Jrrooottt… jroottt… jroottt… Ternyata Tante Ana udah keluar, dan kurasakan banjir di dalam vagina Tante Ana, sekarang vagina Tante Ana semakin basah dan licin. Genjotanku semakin kupercepat dan Tante Ana juga mempercepat goyangannya.

“Terus sayang… enak sayang… oohhhh… oohhhhh… ooohhhhh… ” dan jrroootttt… jrroottt… jrrootttt kita berdua keluar bersamaan. “Ohhhh… nikmat sekali sayang, kamu benar – benar hebat sayang”, kata Tante Ana, dan Tante juga hebat jawabku, lalu kita berdua tertidur pulas sampai pagi dengan posisi penisku masih di dalam vagina Tante ana. Lalu pagi harinya kita berdua bangun dan langsung mandi bersama. Setelah itu kita pergi ke mal, sesampainya di mal kita makan lalu diteruskan shopping. Kegiatan seperti ini berlangsung terus sampai satu minggu lamanya. Selama satu minggu itu juga, segala kebutuhanku ditanggung oleh Tante Ana. Setelah 1 minggu bersama, kita berdua harus pisah karena Tante Ana harus mengurusi bisnisnya yang ada di london. Makasih Tante Ana, atas kasih sayang dan perhatianmu selama satu minggu itu.

Bapak kost

Pagi itu kulihat Oom Pram sedang merapikan tanaman di kebun, dipangkasnya daun-daun yang mencuat tidak beraturan dengan gunting. Kutatap wajahnya dari balik kaca gelap jendela kamarku. Belum terlalu tua, umurnya kutaksir belum mencapai usia 50 tahun, tubuhnya masih kekar wajahnya segar dan cukup tampan. Rambut dan kumisnya beberapa sudah terselip uban. Hari itu memang aku masih tergeletak di kamar kostku. Sejak kemarin aku tidak kuliah karena terserang flu. Jendela kamarku yang berkaca gelap dan menghadap ke taman samping rumah membuatku merasa asri melihat hijau taman, apalagi di sana ada seorang laki-lai setengah baya yang sering kukagumi. Memang usiaku saat itu baru menginjak dua puluh satu tahun dan aku masih duduk di semester enam di fakultasku dan sudah punya pacar yang selalu rajin mengunjungiku di malam minggu. Toh tidak ada halangan apapun kalau aku menyukai laki-laki yang jauh di atas umurku.

Tiba-tiba ia memandang ke arahku, jantungku berdegup keras. Tidak, dia tidak melihaku dari luar sana. Oom Pram mengenakan kaos singlet dan celana pendek, dari pangkal lengannya terlihat seburat ototnya yang masih kecang. Hari memang masih pagi sekitar jam 9:00, teman sekamar kostku telah berangkat sejak jam 6:00 tadi pagi demikian pula penghuni rumah lainnya, temasuk Tante Pram istrinya yang karyawati perusahaan perbankan.

Memang Oom Pram sejak 5 bulan terakhir terkena PHK dengan pesangon yang konon cukup besar, karena penciutan perusahaannya. Sehingga kegiatannya lebih banyak di rumah. Bahkan tak jarang dia yang menyiapkan sarapan pagi untuk kami semua anak kost-nya. Yaitu roti dan selai disertai susu panas. Kedua anaknya sudah kuliah di luar kota. Kami anak kost yang terdiri dari 6 orang mahasiswi sangat akrab dengan induk semang. Mereka memperlakukan kami seperti anaknya. Walaupun biaya indekost-nya tidak terbilang murah, tetapi kami menyukainya karena kami seperti di rumah sendiri. Oom Pram telah selesai mengurus tamannya, ia segera hilang dari pemandanganku, ah seandainya dia ke kamarku dan mau memijitku, aku pasti akan senang, aku lebih membutuhkan kasih sayang dan perhatian dari obat-obatan. Biasanya ibuku yang yang mengurusku dari dibuatkan bubur sampai memijit-mijit badanku. Ah… andaikan Oom Pram yang melakukannya…

Kupejamkan mataku, kunikmati lamunanku sampai kudengar suara siulan dan suara air dari kamar mandi. Pasti Oom Pram sedang mandi, kubayangkan tubuhnya tanpa baju di kamar mandi, lamunanku berkembang menjadi makin hangat, hatiku hangat, kupejamkan mataku ketika aku diciumnya dalam lamunan, oh indahnya. Lamunanku terhenti ketika tiba-tiba ada suara ketukan di pintu kamarku, segera kutarik selimut yang sudah terserak di sampingku. “Masuk… !” kataku. Tak berapa lama kulihat Oom Pram sudah berada di ambang pintu masih mengenakan baju mandi. Senyumnya mengambang “Bagaimana Lina? Ada kemajuan… ?” dia duduk di pinggir ranjangku, tangannya diulurkan ke arah keningku. Aku hanya mengangguk lemah. Walaupun jantungku berdetak keras, aku mencoba membalas senyumnya. Kemudian tangannya beralih memegang tangan kiriku dan mulai memjit-mijit.

“Lina mau dibikinkan susu panas?” tanyanya. “Terima kasih Oom, Lina sudah sarapan tadi,” balasku. “Enak dipijit seperti ini?” aku mengangguk.VDia masih memijit dari tangan yang kiri kemudian beralih ke tangan kanan, kemudian ke pundakku. Ketika pijitannya berpindah ke kakiku aku masih diam saja, karena aku menyukai pijitannya yang lembut, disamping menimbulkan rasa nyaman juga menaikkan birahiku. Disingkirkannya selimut yang membungkus kakiku, sehingga betis dan pahaku yang kuning langsat terbuka, bahkan ternyata dasterku yang tipis agak terangkat ke atas mendekati pangkal paha, aku tidak mencoba membetulkannya, aku pura-pura tidak tahu.

“Lin kakimu mulus sekali ya.” “Ah… Oom bisa aja, kan kulit Tante lebih mulus lagi,” balasku sekenanya. Tangannya masih memijit kakiku dari bawah ke atas berulang-ulang. Lama-lama kurasakan tangannya tidak lagi memijit tetapi mengelus dan mengusap pahaku, aku diam saja, aku menikmatinya, birahiku makin lama makin bangkit. “Lin, Oom jadi terangsang, gimana nih?” suaranya terdengar kalem tanpa emosi. “Jangan Oom, nanti Tante marah… ” Mulutku menolak tapi wajah dan tubuhku bekata lain, dan aku yakin Oom Pram sebagai laki-laki sudah matang dapat membaca bahasa tubuhku. Aku menggelinjang ketika jari tangannya mulai menggosok pangkal paha dekat vaginaku yang terbungkus CD. Dan… astaga! ternyata dibalik baju mandinya Oom Pram tidak mengenakan celana dalam sehingga penisnya yang membesar dan tegak, keluar belahan baju mandinya tanpa disadarinya. Nafasku sesak melihat benda yang berdiri keras penuh dengan tonjolan otot di sekelilingnya dan kepala yang licin mengkilat. Ingin rasanya aku memegang dan mengelusnya. Tetapi kutahan hasratku itu, rasa maluku masih mengalahkan nafsuku.

Oom Pram membungkuk menciumku, kurasakan bibirnya yang hangat menyentuh bibirku dengan lembut. Kehangatan menjalar ke lubuk hatiku dan ketika kurasakan lidahnya mencari-cari lidahku dan maka kusambut dengan lidahku pula, aku melayani hisapan-hisapannya dengan penuh gairah. Separuh tubuhnya sudah menindih tubuhku, kemaluannya menempel di pahaku sedangkan tangan kirinya telah berpindah ke buah dadaku. Dia meremas dadaku dengan lembut sambil menghisap bibirku. Tanpa canggung lagi kurengkuh tubuhnya, kuusap punggungnya dan terus ke bawah ke arah pahanya yang penuh ditumbuhi rambut. Dadaku berdesir enak sekali, tangannya sudah menyelusup ke balik dasterku yang tanpa BH, remasan jarinya sangat ahli, kadang putingku dipelintir sehingga menimbulkan sensasi yang luar biasa.

Nafasku makin memburu ketika dia melepas ciumannya. Kutatap wajahnya, aku kecewa, tapi dia tersenyum dibelainya wajahku. “Lin kau cantik sekali… ” dia memujaku. “Aku ingin menyetubuhimu, tapi apakah kamu masih perawan… ?” aku mengangguk lemah. Memang aku masih perawan, walaupun aku pernah “petting” dengan kakak iparku sampai kami orgasme tapi sampai saat ini aku belum pernah melakukan persetubuhan. Dengan pacarku kami sebatas ciuman biasa, dia terlalu alim untuk melakukan itu. Sedangkan kebutuhan seksku selama ini terpenuhi dengan mansturbasi, dengan khayalan yang indah. Biasanya dua orang obyek khayalanku yaitu kakak iparku dan yang kedua adalah Oom Pram induk semangku, yang sekarang setengah menindih tubuhku. Sebenarnya andaikata dia tidak menanyakan soal keperawanan, pasti aku tak dapat menolak jika ia menyetubuhiku, karena dorongan birahiku kurasakan melebihi birahinya. Kulihat dengan jelas pengendalian dirinya, dia tidak menggebu dia memainkan tangannya, bibirnya dan lidahnya dengan tenang, lembut dan sabar. Justru akulah yang kurasakan meledak-ledak.

“Bagaimana Lin? kita teruskan?” tangannya masih mengusap rambutku, aku tak mampu menjawab. Aku ingin, ingin sekali, tapi aku tak ingin perawanku hilang. Kupejamkan mataku menghindari tatapanbya. “Oom… pakai tangan saja,” bisikku kecewa. Tanpa menunggu lagi tangannya sudah melucuti seluruh dasterku, aku tinggal mengenakan celana dalam, dia juga telah telanjang utuh. Seluruh tubuhnya mengkilat karena keringat, batang kemaluannya panjang dan besar berdiri tegak. Diangkatnya pantatku dilepaskannya celana dalamku yang telah basah sejak tadi. Kubiarkan tangannya membuka selangkanganku lebar-lebar. Kulihat vaginaku telah merekah kemerahan bibirnya mengkilat lembab, klitorisku terasa sudah membesar dan memerah, di dalam lubang kemaluanku telah terbanjiri oleh lendir yang siap melumasi, setiap barang yang akan masuk.

Oom Pram membungkuk dan mulai menjilat dinding kiri dan kanan kemaluanku, terasa nikmat sekali aku menggeliat, lidahnya menggeser makin ke atas ke arah klitosris, kupegang kepalanya dan aku mulai merintih kenikmatan. Berapa lama dia menggeserkan lidahnya di atas klitosriku yang makin membengkak. Karena kenikmatan tanpa terasa aku telah menggoyang pantatku, kadang kuangkat kadang ke kiri dan ke kanan. Tiba-tiba Oom Pram melakukan sedotan kecil di klitoris, kadang disedot kadang dipermainkan dengan ujung lidah. Kenikmatan yang kudapat luar biasa, seluruh kelamin sampai pinggul, gerakanku makin tak terkendali, “Oom… aduh… Oom… Lin mau keluar… ..” Kuangkat tinggi tinggi pantatku, aku sudah siap untuk berorgasme, tapi pada saat yang tepat dia melepaskan ciumannya dari vagina. Dia menarikku bangun dan menyorongkan kemaluannya yang kokoh itu kemulutku. ” Gantian ya Lin… aku ingin kau isap kemaluanku.” Kutangkap kemaluannya, terasa penuh dan keras dalam genggamanku. Oom Pram sudah terlentang dan posisiku membungkuk siap untuk mengulum kelaminnya. Aku sering membayangkan dan aku juga beberapa kali menonton dalam film biru. Tetapi baru kali inilah aku melakukannya.

Birahiku sudah sampai puncak. Kutelusuri pangkal kemaluannya dengan lidahku dari pangkal sampai ke ujung penisnya yang mengkilat berkali-kali. “Ahhh… Enak sekali Lin… ” dia berdesis. Kemudian kukulum dan kusedot-sedot dan kujilat dengan lidah sedangkan pangkal kemaluannya kuelus dengan jariku. Suara desahan Oom Pram membuatku tidak tahan menahan birahi. Kusudahi permainan di kelaminnya, tiba-tiba aku sudah setengah jongkok di atas tubuhnya, kemaluannya persis di depan lubang vaginaku. “Oom, Lin masukin dikit ya Oom, Lin pengen sekali.” Dia hanya tersenyum. “Hati-hati ya… jangan terlalu dalam… ” Aku sudah tidak lagi mendengar kata-katanya. Kupegang kemaluannya, kutempelkan pada bibir kemaluanku, kusapu-sapukan sebentar di klitoris dan bibir bawah, dan… oh, ketika kepala kemaluanya kumasukan dalam lubang, aku hampir terbang. Beberapa detik aku tidak berani bergerak tanganku masih memegangi kemaluannya, ujung kemaluannya masih menancap dalam lubang vaginaku. Kurasakan kedutan-kedutan kecil dalam bibir bawahku, aku tidak yakin apakah kedutan berasal dariku atau darinya.

Kuangkat sedikit pantatku, dan gesekan itu ujung kemaluannya yang sangat besar terasa menggeser bibir dalam dan pangkal klitoris. Kudorong pinggulku ke bawah makin dalam kenikmatan makin dalam, separuh batang kemaluannya sudah melesak dalam kemaluanku. Kukocokkan kemaluannya naik-turun, tidak ada rasa sakit seperti yang sering aku dengar dari temanku ketika keperawanannya hilang, padahal sudah separuh. Kujepit kemaluannya dengan otot dalam, kusedot ke dalam. Kulepas kembali berulang-ulang. “Oh… Lin kau hebat, jepitanmu nimat sekali.” Kudengar Oom Pram mendesis-desis, payudaraku diremas-remas dan membuat aku merintih-rintih ketika dalam jepitanku itu. Dia mengocokkan kemaluannya dari bawah. Aku merintih, mendesis, mendengus, dan akhirnya kehilangan kontrolku. Kudorong pinggulku ke bawah, terus ke bawah sehingga penis Oom Pram sudah utuh masuk ke vaginaku, tidak ada rasa sakit, yang ada adalah kenikmatan yang meledak-ledak.Dari posisi duduk, kurubuhkan badanku di atas badannya, susuku menempel, perutku merekat pada perutnya. Kudekap Oom Pram erat-erat. Tangan kiri Oom Pram mendekap punggungku, sedang tangan kanannya mengusap-usap bokongku dan analku. Aku makin kenikmatan. Sambil merintih-rintih kukocok dan kugoyang pinggulku, sedang kurasakan benda padat kenyal dan besar menyodok-nyodok dari bawah.

Tiba-tiba aku tidak tahan lagi, kedutan tadinya kecil makin keras dan akhirnya meledak. “Ahhh… ” Kutekan vaginaku ke penisnya, kedutannya keras sekali, nimat sekali. Dan hampir bersamaan dari dalam vagina terasa cairan hangat, menyemprot dinding rahimku. “Ooohhh… ” Oom Pram juga ejakulasi pada saat yang bersamaan. Beberapa menit aku masih berada di atasnya, dan kemaluannya masih menyesaki vaginaku. Kurasai vaginaku masih berkedut dan makin lemah. Tapi kelaminku masih menyebarkan kenikmatan.

Pagi itu keperawananku hilang tanpa darah dan tanpa rasa sakit. Aku tidak menyesal.

Tante Pang

Kisah ini berawal di kota kelahiranku . Kami bertetangga dengan sebuah keluarga Cina. Kami pindah kerumah itu ketika aku berusia enam tahun. Ayahku adalah pegawai negri sipil biasa dan oom Pang adalah juga PNS tetapi punya kedudukan yang tinggi. Oom Pang ini orang Cina peranakan Manado sedangkan tante Pang atau yang biasa dipanggil tante Soen adalah orang Cina peranakan Ternate.

Aku satu umur dengan anak gadisnya yang nomor empat dan kami satu sekolah. Dengan demikian kami tumbuh bersama menjelang masa remaja, hanya setamat SMP aku ke STM sedangkan Angela ke SMA. Aku suka main dirumahnya Angela. Tapi sejak aku di bangku kelas tiga SMP aku mulai tertarik kalau melihat tante Pang ini. Orangnya tinggi besar, wajahnya sebenarnya cukup cantik, hidungnya mancung dan bibir bibir yang sexy. Betis betis kakinya yang besar dan panjang itu juga berbentuk indah. Tetapi selama hidupku aku tak pernah melihat tante ini berhias diri. Ke Gerejapun tante hanya berdandan biasa saja tanpa make up yang berlebihan.

Setiap hari tante slalu bekerja didapur memasak. Tante senang padaku sebab aku suka menemaninya didapur dan kami mengobrol soal apa saja. Tante ini benar benar adalah seorang wanita yang polos dan suci hatinya menurut pandanganku. Tapi tante ini kalau duduk suka sembarangan dan inilah yang membuat aku jadi bernafsu padanya. Suatu hari aku meIihat tante memakai baju yang agak terbuka dan diketiaknya sudah sedikit sobek. Akibatnya tali bra nya yang warna hitam itu kelihatan bahkan sebagian samping dari toketnya yang putih dan besar itu juga kelihatan. Aku tak tahan melihat semua ini, sementara tantepun cuek saja sebab sibuk dengan pekerjaannya. Kebetulan saat itu tak ada siapa siapa didapur selain aku dan tante Pang ini. Beberapa butir peluhnya mengalir di wajahnya yang tak kenal lelah itu. Lehernya yang berisi nampak mengkilat oleh keringatnya. Pemandangan ini yang membangkitkan nafsu birahiku padanya.

Tiba tiba telefon berbunyi dan tante menyuruhku untuk angkat telefoon. Rupanya dari suaminya dari kantornya, mau bicara dengan mamanya. Lalu tante Pang datang mendekatiku, mengambil alih gagang telefoon itu sambil berdiri tepat disampingku dekat sekali hingga toketnya yang terbuka itu bisa aku lihat begitu jelasnya. Kulitnya masih mulus putih padahal usianya sudah empat puluh tahun waktu itu. Aku tak dapat menahan hatiku lagi. Sementara tante berbicara ditelefoon maka tanganku segra bereaksi mengusap pelan bagian dari toketnya yang nampak itu dan kuremas remas pelan. Aku merasa nikmat sekali bisa menyentuh kulit putih itu. Tante hanya menatapku tapi tak bereaksi apa apa dan kembali melanjutkan kerjanya.

Aku kembali mendekatinya dan tanganku kembali menyusup masuk lewat celah yang terbuka itu terus memegang buah dadanya dan meremas remasnya. Tante kaget dengan sikapku yang berani itu. “Ce ngana anak kecil kenapa ramas ramas kita punya susu?”. Tante bertanya dengan dialek Ternatenya. “Tante punya susu itu bikin saya jadi nafsu” kataku dengan hati yang polos, walau hatiku berdebar juga. Tanganku masih saja menggerayangi toketnya yang besar itu. Bahkan ketika sampai keputingnya dan memintir mintir putingnya itu terasa putingnya tante tlah jadi tegang mengeras dan memanjang.

“Adooohh… !” tante Pang mengeluh sambil memerem matanya dan menegakan badannya. Rupanya ia juga merasa nikmat dengan permainan tanganku ini. Dan kuremas terus gumpalan daging putih yang masih kenyal itu. Tante Pang semakin mengerang. Kuraih kepalanya dan kucium bibirnya, walau aku sendiri masih bodoh dalam berciuman. Gigiku berbenturan dengan giginya tante, tapi cepat ku sambar bibirnya lagi. Tante tersandar dikursi menatapku nanar.

Melihat tante Pang yang sudah terkapar seperti petinju yang ko itu, bikin aku tambah nekad lagi. Kukeluarkan kedua payu daranya itu dari dalam bra nya dan kuhisap kedua putingnya silih berganti. Tante Pang semakin merintih dan memekik dengan suara tertahan sambil membanting banting kakinya kelantai. Tangan kiriku masuk kebalik blusnya terus menembus cd nya dan mengusap usap bibir memeknya. Tante Pang berteriak dan memekik tertahan, rupanya tante mencapai klimaksnya. “Sudah… , sudaaah… !” jerit tante Pang dengan suara bergetar. Lalu ia bangun berdiri seperti marah padaku. Menatapku dengan mata terbelalak. Bibirnya gemetaran. “Ce… , kurang ajar ngana!” Lalu ia bangkit berdiri dan buru buru memasukan kembali kedua toketnya yang aku keluarkan tadi itu segra meninggalkan tempat itu. Kulihat tante memasuki kamarnya dan membanting pintu. Aku cepat cepat kabur saja dari situ. Malamnya ku datang kesitu lagi, dengan alasan mau ketemu sama Angela. Tante Pang lagi diruang tamu duduk berpangku kaki sambil membaca majalah. Hanya menatapku sekilas dan tidak menjawabku. Mungkin dia masih marah pikirku.

Pada suatu pagi aku tak masuk sekolah, lewat samping aku masuk kedapur dan dipojok aku lihat tante sedang mencuci pakaian. Kebiasaannya kalau celana dalamnya dan anak anak wanitanya tante mengucek ngucek sendiri tak pernah masukan kedalam mesin cuci. Tante Pang sedang duduk pada sebuah bangku kecil sambil membuka lebar kedua pahanya sementara roknya tersingkap sampai jauh keatas. Mungkin sebab tak ada orang lain di rumah jadi tante bersikap bebas begitu dan tante Pang pun kaget dengan kehadiranku yang tiba tiba itu.

Aku pura pura nanya segala macam untuk mengajaknya ngobrol sambil aku duduk di hadapannya hingga pahanya yang besar yang tlah basah oleh air sabun jadi mengkilap putih. Bisa kulihat dengan jelas membuat aku jadi benar benar terangsang. Entah tante Pang sadar atau tidak dengan posisi duduknya itu, dia tetap tak merobah posisi duduknya itu walau mataku tlah melotot kearah selangkangannya. Aku lalu berdiri dan mendekatinya dan jariku segra meraba pahanya yang basah itu dan agak meremas remas kulit paha yang masih kenyal itu, sementara si kecilku mulai bergerak gerak didalam celanaku. “Hei… !” sergah tante Pang tapi tanpa menoleh padaku. “Mulai lagi ngana punya tangan nakal itu”. Tapi nada suaranya tidak seperi orang marah. Jari jariku turun kebawah sampai mendekati selangkangnya dan kusingkap lagi roknya . “Aduuuh, ngana ini nakal sekali ya?” kali ini suaranya agak meninggi sedikit, tapi ia tetap saja melanjutkan mengucek pakaian. Dan tanganku sudah tak bisa ditahan lagi, jariku segra menerobos masuk kedalam cd nya. Kurasakan jembutnya yang lebat dan panjang panjang itu sementara jariku terus saja masuk menyusup hingga aku menemukan lobangnya. Aku yakin bahwa ini adalah lobang vaginanya tante Pang, segra jari tengahku dan jari telunjukku kudorong masuk. Tante Pang menjerit seketika dan menatapku seperti tak percaya kalau aku berani berbuat sejauh itu. Ia berusaha menarik keluar tanganku, tapi aku bertahan kuat kuat. Dengan sekuat tenaga aku mendorong kedua jariku masuk dan menusuk nusuk memeknya tante Pang itu.

Kulihat tante itu memejamkan matanya sambil mendesah tertahan, aku semakin kuat menyodok nyodok terus hingga jari jariku terasa basah oleh cairan yang ada didalam lobang memeknya tante Pang itu. Kedua tangannya terkulai lemas disisinya dan kepalanya tertunduk dan suaranya melenguh dan napasnya memburu. Kemudian ku lihat tante Pang seperti kesetanan mendesah mengerang sambil menjepit kedua pahanya kuat kuat hingga jari jariku ikut terjepit. Beberapa saat kemudian ia seperti tersadar lalu mendorongku kuat kuat hingga aku jatuh terjengkang kebelakang. Lalu cepat ia bangun berdiri dan meninggalkan tempat itu. Kemudian terdengar pintu kamar dibanting kuat kuat. Aku terkaget lalu buru buru bangun dan kabur dari situ.

Aku paling tak suka sama si Teng Be, kakaknya Angela. Orangnya sombong dan angkuh, tidak seperti Teng Lae atau Giok kedua kakaknya. Dia dua tahun lebih tua dari aku, kami yang sebaya tak suka main dengan dia. Aku pikir gimana kalau sampai mereka tahu apa yang tlah ku perbuat terhadap mama mereka?. Dunia pasti akan geger. Sebab aku berdarah melayu campuran darah orang Papua dan mereka orang Cina. Untuk beberapa hari berikutnya aku tak berani kerumah mereka. Tapi dalam sehari tak melihat wajahnya tante Pang aku merasa diriku sangat sengsara. Sejak kecil aku tak pernah merasakan kasih sayang ibu. Ini yang bikin aku jadi nakal dan liar.

Waktu acara perpisahan sekolah aku datang sendirian, sebab papaku lagi pergi. Aku begitu iri melihat teman teman lain yang di temani orang tua mereka. Mereka berpakaian bagus bagus sedangkan aku hanya berpakaian seadanya. Padahal aku bukan berasal dari keluarga yang miskin, hanya ibu tiriku saja yang sangat pelit terhadap aku. Aku melihat Angela di temani papa dan mamanya, kami sama sama lulus ujian. Aku berdiri sendirian dengan kepala yang tertunduk dan sebelum acaranya selesai aku sudah kabur duluan sebab aku merasa tak pantas berada diantara teman temanku itu yang mereka semuanya sangat menikmati hari hari yang bahagia itu. Selama liburan aku tinggal dirumahnya kakekku, yaitu bapaknya papa aku. Rumahnya berada ditepi pantai berada ditepi pantai. Kadang aku ikut kakek melaut mencari ikan untuk kita makan. Tapi hatiku slalu rindu sama tante Pang. Akhirnya papaku datang, katanya aku didaftarkan di STM bagian mesin. Aku sangat sayang sama beliau, tapi aku benci istrinya itu. Aku tak punya pilihan lain selain harus kembali kerumah itu. Padahal rumah itu bagai neraka bagiku, tapi ada tante Pang tetanggaku yang slalu aku rindukan. Akhirnya ketika aku tlah duduk di bangku kelas satu STM, sebab aku dapat ceweq anak sekolah maka buat sementara aku melupakan tante Pang. Tapi setelah aku kelas tiga baru aku teringat sama tante lagi. Rupanya selama ini dia slalu merindukanku, tapi tentu saja tak mungkin diungkapkannya padaku, sebab tante ini adalah wanita yang masih terkungkung oleh norma norma kehidupan dan tradisi orang Cina. Bahkan dia sama sekali tak bereaksi ketika aku berusaha lagi untuk mendekati nya, walau aku yakin kalau dia itu tahu akan gerak gerikku ini.

Sebab aku tahu jam jam dia sendirian di rumah maka saat itulah aku datang padanya. Yaitu sekitar jam tiga sore, ketika yang lainnya pada tidur siang, tapi tante tak pernah mau tidur siang. Katanya biar malam nanti ia bisa cepat tertidur. Waktu aku datang saat dia lagi sendirian duduk di meja makan sambil membaca majalah, ia menatapku penuh selidik. Setelah menyapanya aku langsung datang duduk didekatnya. Aku dapat mendengar elahan napasnya. “Anak kecil, ngana mau apa lagi?”. Sialan, ia masih juga memanggilku dengan sebutan anak kecil, padahal aku sudah di bangku kelas tiga STM. “Saya rindu sama tante, tante yang cantik dan sexy manis” jawabku sambil tersenyum padanya. Tante Pang hanya mendengus dan seperti mengejek aku. “Ce, ngana anak sepanggal, so berani raba raba kita punya barang” katanya sambil menatapku seperti jengkel. “Tapi tante juga suka kan?” jawabku menantangnya dan menatap matanya. “Tapi ngana kurang ajar pa orang tua, kita kan so tua!” jawab tante sengit dengan suara mendesis. “Tante masih kelihatan muda koq!, Tante masih cantik merangsang, hanya tante saja yang tidak merasa” aku terus menjawab sambil memegang lengannya. Tante diam saja tak bereaksi ketika kuremas remas lengannya yang dibawah ketiaknya dan satu tanganku mengelus pahanya.

Tiba tiba ia berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. Aku pun berdiri dan cepat menyusulnya dan tanpa ia sadar ketika masuk kedalam kamar mandi, akupun ikut masuk .Tante kaget setengah mati melihat padaku yang segra menutup pintunya. “Ce !, ngana betul betul anak kurang ajar, ayo keluar! Kita mo berak!” katanya setengah berbisik. Kalau memang ia tak suka kenapa ia tak berteriak saja?. Aku berdiri sambil bersandar di pintu dan memandanginya. Mukanya jadi masam, tapi rupanya ia tak bisa tahan lagi. Lalu mengangkat rokya dengan tergesa gesa dan mencopot cdnya dan langsung ia duduk diatas kloset dengan muka yang seperti mengejan. Kudengar tinjanya yang besar itu terputus putus jatuh kedalam closet dan menimbulkan bunyi. Bunyi itu sangat merangsangku .

Aku mendekatinya dan mencium bibirnya sambil toketnya kembali kuremas remas. Kumasukin tanganku ke dalam branya, menarik keluar toketnya dan kuhisap hisap lagi dengan kuat kuat. Tante hanya mengerang seperti keenakan, tapi tetap membiarkan aku terus beraksi. Kemudian ia berdiri dan mengambil gayung mau cebok. Tapi aku lebih cepat menyambar gayung dan menimba air, lalu kusuruh tante berbalik dan aku lah yang mencebok pantatnya. Dengan jari jariku aku membersihkan lobang anusnya dari kotoran tinjanya. Tante hanya mengerang sambil berdiri mengangkang kedua kakinya dan agak menunduk. Kemudian aku berjongkok dan tanganku memegang bokong pantatnya tante lalu menjulurkan lidahku menjilati lobang anusnya tante Pang itu. Mungkin sebab merasa geli tante menggoyang pantatnya sambil terus merintih dan mengerang berat sambil mendesah. “Aduuuhh… , ngana so bikin apa lagi pa kita ni… ” suara tante Pang mendesah. Aku tetap saja membruca lobang anusnya itu dan tante mulai terangsang nafsunya. Kemudian kulucuti bajunya hingga praktis tante Pang jadi bugil di hadapanku. Kedua tangannya menyilang di depan toketnya yang besar tapi sudah terbembeng itu, tubuhnya gemetar dan menatapku dengan bingung. Ku memintanya supaya bersandar didinding dan membuka lebar kedua pahanya. Tante Pang mengikuti permintaanku tanpa membantah sambil berdiri pasrah seperti orang yang kebingungan.

Mataku melotot memperhatikan seluruh tubuhnya tante Pang dari atas sampai ke ujung kakinya. Sudah ada beberapa helai rambut ubannya. Tapi lehernya masih mulus dan kedua toketnya yang besar itu tergantung lesu seperti buah pepaya dengan puting susunya yang besar dan memanjang berwarna gelap. Kontras sekali dengan warna kulitnya yang kuning langsat dan mulus bersih itu. Pada perutnya agak membesar itu terlihat guratan guratan tanda pernah melahirkan, nampak jelas sekali disekitar lobang pusarnya dan bagian bawah perutnya. Pahanya yang besar itu sudah berlemak yang menggelambir mengantung dan hampir menutup selangkangnya. Bulu bulu jembutnya sangat tebal dan memanjang menutupi bagian depan vaginanya.

Tetapi secara umumnya penampilan Tante Pang itu masih cukup sexy dan bagus, kontolku sudah mulai bangun. Aku berjongkok didepannya dan menguak rambut kemaluannya itu dan lidahku mulai membruca memeknya tante Pang. Bibir vegynya tante tlah porak poranda dan tak tentu lagi bentuknya. Labia mayoranya sudah membesar dan terlipat seperti jenger ayam dan kebiru biruan. Maklumlah tante Pang sudah lima kali melahirkan. Lobang memeknya pun sudah terbuka besar, kira kira ada tiga sentimeter garis tengahnya. Berwarna merah dan kesepian. Mungkin sudah lama sekali memek ini tak pernah dimasuki kontol lagi. Sebab nampaknya oom Pang sudah loyo.

Kelihatannya tante Pang tlah menyerah total dan pasrah padaku sambil menjambak rambutku kadang kadang dengan sangat keras sekali. Tiga buah jari jariku sekaligus masuk menyodok kedalam liang vaginanya itu yang tlah basah berlendir. Tante Pang hanya menjerit dan memekik tertahan. Akhirnya tibalah pada acara finishing touchnya, yaitu memasukan kontolku kedalam memeknya Tante Pang. Rudalku langsung masuk melesak kedalam sampai semuanya tertanam didalam memeknya tante Pang itu. Sambil tersandar didinding kedua tangannya merangkul leherku dan kedua tanganku memegang pinggangnya dan aku mulai memompa kuat kuat. Napas tante Pang tersengal sengal sambil kucium bibirnya sementara keringat mulai membasahi tubuh kami dua. Keringat kami bercampur membuat badan kami juga jadi licin.

Kira kira sepuluh menit kemudian tubuh tante Pang jadi menegang dan bergetar dengan hebatnya. Sambil merangkulku kuat kuat dan memekik tertahan pertanda ia sedang mencapai puncak orgasmenya. Bahkan air matanya pun keluar , tante menangis terisak isak. Akhirnya akupun menumpahkan spermaku kedalam rahimnya. Kutancapkan kuat kuat kontolku kedalam memeknya dan akupun jadi tegang untuk beberapa saat Tubuh kami tetap bertaut berpelukan erat dan keringat yang membanjir. Kuangkat wajahnya, tapi tante Pang menunduk lagi. Mungkin ia merasa malu, hanya napasnya saja yang masih terus memburu sementara kami masih dalam posisi bersenggama. Akhirnya ku cabut keluar kontolku dari dalam lobang memeknya dan aku membantunya membersihkan dirinya dan memakaikan kembali pakaiannya tanpa bicara apa apa, sebelum keluar masih sempat lagi aku mencium bibirnya bahkan kami berpelukan dengan mesrahnya dan kami segra keluar dari situ.

Satu malam sekitar jam delapan aku keluar dari rumah dan berjalan disamping rumah mereka. Rumah mereka agak kebelakang sebab halaman depannya sangat luas sekali, begitu juga dengan halaman belakangnya. Melewati dapur kita aku terus berjalan lewat samping rumah mereka hingga aku tiba dibelakang rumah mereka. Untuk bebrapa saat aku berdiri dibawah pohon nangka dibelakang rumah itu sambil memandang kedalam rumah itu. Kulihat tante sedang berada didapur, entah lagi sibuk apa. Lalu kulihat tante keluar dari pintu dapar, buru buru aku mendekatinya, Dia kaget. “Hei kenapa malam malam ngana ada disini?”. Ia bertanya dengan dialek Ternatenya. Ku tempelkan jariku di mulutku dan memegang tangannya mengajaknya ke bawah pohon nangka dan ia mengikuti dengan perasaan bingung tapi diam. “Ngana mau bikin apa di sini ?”. tanyanya dengan suara mendesis sambil menatapku heran. “Tante duduk disini”. jawabku sambil menunjuk bangku panjang yang ada disitu. Lalu tante Pang pun duduk disitu dan aku juga ikut duduk disampingnya sambil memegang lengannya dan merangkul pinggangnya. Napasnya yang panas itu terasa ketika aku melumat bibirnya. Kami saling bertaut bibir erat erat. “Saya mau cuki tante lagi” kataku pelan sambil mendekap tubuh yang besar itu. “Ce… , ngana ini anak gila betul, ngana kan masih kecil, tante ini so tua, kenapa ngana mo cuki pa kita orang so tua bagini?”. “Tapi tante masih cantik dan saya jatuh cinta sama tante” jawabku sungguh sungguh untuk meyakinkannya. “Lalu kalau ngana jatuh cinta pa kita , trus ngana mo bikin apa pa kita ?” Aku tak menjawab tapi langsung saja kembali memagut bibirnya kuat kuat. Seperti yang aku lihat di film film biru. Tante Pang tidak melawan, tapi diam saja seperti pasrah. Dari bibirnya terus turun ke batang lehernya ku jilatin sambil kudengar suara dengusannya.

Aku keluarkan toketnya yang besar itu dari balik dasternya dan kusedot habis puting susunya itu kuat kuat hingga tante Pang menjerit tertahan dan mengerang hebat. Nampaknya tante Pang juga sudah mulai horny. Kemudian ku suruh ia berdiri dan menyandar kebatang pohon nangka yang besar itu dengan membuka lebar kedua kainya, lalu mengangkat roknya dan melucuti celana dalamnya. Aku seperti orang yang benar benar sudah ahli urusan sex dan akhirnya kumasukan kontolku kedalam memeknya. Dengan sekuat tenaga aku memompa sambil berdiri memegang pinggulnya. Tante Pang mendengus keras sambil mendesah dan melenguh sementara badannya yang besar itu jadi menegang dan memelukku erat erat sambil ku hisap habis habisan bibirnya dan lidahnya itu. Tante Pang mencapai klimaksnya sambil mendesah berat. Akhirnya aku juga keluar. Tubuh kami berdua sudah bermandi keringat yang bercampur baur . Ku hunjamkan kuat kuat kontolku kedalam memeknya tante Pang ini sambil menyemprotkan spermaku kedalam rahimnya. Enaaak… , ini kali yang ketiga aku melakukan hubungan sex dengan wanita. Kami masih bersandar pada batang pohon nangka itu buat beberapa saat dengan napas yang masih tersengal sengal. Kujilati leher tante Pang yang basah oleh peluhnya itu, walau terasa asin tapi aku suka. Tiba tiba anaknya yang tertua si Teng Lae keluar dari pintu dapur. Berjalan melewati kami berdua kira kira pada jarak dua meter saja. Ia mengambil handuknya dijemuran dan kembali masuk kedalam rumah . Aku memegang mulutnya tante Pang kuat kuat. Untung saja disitu sangat gelap sekali. Tapi kami dua sudah sempat ketakutan setengah mati.

Aku membuka bajuku dan melap keringatnya tante Pang di mukanya dan sekujur badannya hingga bajuku jadi basah oleh keringatnya. Kemudian tanpa berbicara setelah memakai kembali cd nya lalu tante berjalan masuk kedalam rumah tanpa menghiraukan aku lagi. Aku tersenyum puas sambil bersandar di batang pohon nangka itu. Besok siangnya sepulang sekolah aku kesebelah lewat pintu dapur. Suasana nampak sepi hanya ada tante pang didapur. “Selamat siang tante Po chi ada?” tanyaku , tapi tante hanya diam saja tak menjawab aku . Menolehpun tidak , mungkin dia marah. Lalu kudekati tante dari belakang dan kucubit pantatnya . Terkejut ia membalik menatapku seperti marah. “Kurang ajar!” desisnya sambil menatapku tapi dengan tersenum senang padaku. Sebab tak ada siapa siapa disitu tiba tiba ia menarik tanganku dan kami masuk lagi edalam kamar mandi dan akhirnya terjadi kembali persetubuhan antara aku dan tante Pang disiang bolong itu didalam kamar mandi rumah mereka. Sejak saat itu aku semakin dekat lagi dengan tante Pang ini dan tentu saja tak ada orang yang tahu bahwa kami dua lagi pacaran dengan mesrahnya.

Cinta seorang napi

Hari itu Warso dipanggil oleh sipir penjara ,karena ada suatu keperluan yang amat penting. Lalu iapun menerima surat pembebasan yang jatuh pada hari itu… Ia amat gembira dan sangat bahagia sebab ia akan bebas dan bisa menentukan arah dan sisa hidup selanjutnya. Meski saat itu usianya menginjak 60 tahun. Setelah meninggalkan penjara itu iapun melangkahkan kaki menuju rumah temannya yang telah bebas lebih dulu darinya yang berada di kota Solo itu untuk menemui Gondo. Gondo adalah sahabatnya saat di penjara yang telah dahulu bebas. Ia menemui Gondo karena dijanjikan untuk bekerja sebagai penarik becak dikota itu. Kebetulan Gondo amat dekat dengan Warso. Tidak lama kemudian Warsopun bertemu Gondo yang rumahnya tidak terlalu sulit ia temukan. Keesokan harinya iapun mulai bekerja menarik becak meskipun masih terbatas daerahnya. Saat menarik becak itu, naas menimpanya, tanpa disangka iapun ditabrak sebuah sedan dan tubuhnya terpelanting kejalan sedangkan becaknya rusak. Untunglah pengemudi sedan itu mau bertanggung jawab. Warso dibawanya ke rumah sakit terdekat dan ditanggung biaya pengobatannya juga segala kerusakan becaknya. Akhirnya setelah Warso sehat dan ia tidak terluka parah iapun ditawari si pengemudi itu untuk bekerja di perusahaannya sebagai sopir karena Warso juga bisa mengemudikan mobil. Untuk itulah akhirnya Warso bisa bekerja pada pria itu yang ia ketahui namanya Indra.

Indra adalah seorang pengusaha muda dikota itu . Warso adalah laki-laki asal pulau penghasil garam dari Jawa Timur. Separuh umurnya dihabiskan didalam penjara di berbagai kota dipulau jawa. Saat masih muda ia telah terbiasa oleh lingkungan yang keras dan kasar, juga kejam. Wataknya dipengaruhi oleh cara pandang dunia hitam dan kriminal. Masih dalam usia muda Warso telah diusir oleh warga daerahnya di Pulau itu karena sifat dan prilakunya yang meresahkan warga kampung itu. Hingga akhirnya iapun sampai di kota Surabaya .

Hampir tiada hari baginya yang untuk selalu bertindak jahat. Merampok, jambret dan melukai orang telah beberapa kali dilakoninya. Hingga namanya menjadi tersohor atas kesadisan dan kekejamannya. Ia amat disegani kalangan hitam dan menjadi buronan serta incaran aparat penegak hukum. Dalam suatu perampokan dia membunuh korbannya. Peristiwa itu membuatnya menjadi orang buronan dan TO yang berwajib hingga berhasil ditangkap. Dalam melakukan aksinya Warso memiliki beberapa orang anggota komplotan. Namun mereka telah tewas tertembak. Semua hasil kejahatannya dihabiskan di tempat lokalisasi dan meja judi dan foya foya. Namun beruntung Warso Masih hidup dan menjalani hukuman. Hukuman yang diterimanya pun amat berat dan memakan waktu yang cukup lama. Hingga ia sempat dipindah ke Nusakambangan, lalu pindah penjara dan akhirnya ia terdampar pada sebuah penjara yang berada di sebuah kota Jawa Tengah . Itu terjadi karena usianya mulai tua dan kelakukannya yang baik dan tidak membahayakan.

Selama ia menjalani masa tahanan ia slalu patuh dan disiplin hingga ia mendapatkan remisi dan akhirnya dibebaskan. Sekeluar dari penjara itu Warso berkeinginan untuk hidup dijalan yang benar dan lurus. Warso sempat merasa putus asa saat keluar penjara. Dia gelisah karena tidak memiliki kerabat dikota itu. Apalagi keluarga. Ia juga bingung memikirkan biaya untuk kembali ke Surabaya.Untunglah ada Gondo sahabatnya saat di penjara. Saat itu Gondo menawarinya kerja sebagai tukang becak. Indra menawarkan pekerjaan pada Warso dan dengan senang hati tawaran itu diterimanya. Warso tidak menjelaskan statusnya yang narapidana itu. Ia khawatir Indra tidak akan mau menerimanya bekerja karena statusnya itu, membuat orang berpikir untuk menampungnya bekerja. Sebab sangat sulit mendapatkan kerja mengingat status yang disandangnya itu. Suasana dalam kamar itu masih sejuk karena hembusan AC yang mendinginkan. Namun semenjak terisapnya asap yang masuk ketubuh wanita itu membuat si wanita tidur dengan gelisah. Sedangkan suaminya yang tidur disampingnya terlihat sangat nyenyak dengan sisa sisa kelelahan yang tersirat diwajah pasangan itu. Memang sebelum tidur pasangan itu terlebih dahulu telah berhubungan badan hingga mereka kecapaian dan terlelap. Namun si wanita tidak demikian, terlihat kegelisahan dan lelehan keringat dingin ditubuhnya yang ramping dan wajah cantik itu. Tubuhnya basah oleh keringat padahal hawa dalam kamar itu masih sejuk. Masih dengan mata terpejam gerakan si wanita meronta ronta lembut seolah olah mendengus dan merintih. Gerakannya seperti sedang melakukan hubungan badan dengan sesosok yang tidak terlihat oleh kasat mata. Pada akhir gerakannya iapun terlihat membuka kedua pahanya dan memajukan kemaluannya kearah atas seakan telah terjadi penetrasi. Tubuh putihnya itu akhirnya melengkung keatas lalu meregang dan melemah basah oleh keringatnya. Dalam mimpinya saat itu si wanita telah bersebadan dengan sesosok bayangan ghaib sebagai reaksi atas terhirupnya asap tadi. Persetubuhan gaib itu amat membuatnya orgasme dengan dasyat mengalahkan persetubuhannya dengan suaminya. Iapun lalu terkulai lemas dan menikmati detik-detik persebadanan gaib itu hingga iapun terlelap.

Indra adalah seorang pengusaha muda yang cukup mapan. Usianya masih sangat muda yaitu 31 thn . Usaha itu dirintisnya semenjak kuliah dulu. Dan kini terlihat perkembangan yang cukup pesat. Memang andil dari orangtuanya amat berpengaruh. Sebab ayahnya adalah seorang pejabat teras yang cukup ternama di kota itu. Keluarganya pun cukup terpandang karena status sosialnya dimasyarakat cukup bagus. Indra telah menikah dengan seorang wanita cantik juga dari lingkungan yang terpandang dan masih berdarah biru. Namanya Vina, usianya pun masih muda yaitu 25 tahun. Vina menikah dengan Indra karena kepiawaian Indra menaklukan hatinya. Padahal dulu Vina telah bertunangan dengan seorang dokter yang di jodohkan oleh orangtuanya. Apalagi sang Dokter adalah tamatan luar negeri. Namun karena ketekunan dan ketelatenan Indra, akhirnya Vina dapat ia sunting. Apalagi melihat status sosial keluarganya dimasyarakat yang cukup dikenal maka memudahkannya mendekati orang tua Vina. Ikut campurnya orang tua mereka dalam perjodohan itu amat kental. Sebab bagi mereka jika menikah dengan orang sembarangan akan membuat keturunan mereka akan rusak. Makanya baik ( BIBIT, BOBOT, BEBET ) amat di perhatikan org tua mereka. Mereka tidak ingin anaknya hidup susah dan melarat jika menikah dengan orang kebanyakan yang tidak jelas asal usulnya. Falsafah ini amat dipegang mereka.

Sosok Vina amat cantik dengan kulit putih , rambut sebahu. Kecantikannya tidak kalah dengan artis, malahan wajahnya mirip sekali dengan seorang bintang seorang presenter infotaimnent Sensor di Indosiar itu. Memang mereka amat serasi. Yang laki-laki tampan dan wanitanya cantik. Kalau tidak salah mereka memang potret pasangan muda masa kini. Tidak heran banyak rekan dan kolega mereka yang merasa iri atas keserasian mereka, selain cantik dan lembut tutur katanya, Ia juga merupakan seorang sarjana. Vina pun di percaya oleh orangtuanya untuk menjalankan usaha keluarganya dibidang farmasi. Jadi tidak heran masing-masing mereka asyik dengan kesibukannya. Indra dan Vinapun amat menghormati orang-orang disekelilingnya. Tidak pernah rasanya ia berkata kasar. Dan para karyawannya pun merasa nyaman bekerja pada mereka. Apalagi kepada orang yang lebih tua mereka amat santun. Juga dalam berpakaian baik Indra maupun Vina jarang terlihat sembrono. Mereka amat menjunjung ajaran agama dan leluhurnya.

Seiring perkembangan usaha dan kesibukannya, maka Warso diminta Indra menjadi sopir pribadinya. Selama ini Warso tinggal di lingkungan perusahaan dan hanya menyopiri mobil perusahaan. Warso harus mendampinggi Indra yang sering ke luar kota, dan untuk kelancaran tugas tugasnya maka Warso diberi ajak tinggal serumah dengan Indra. Ia diberisebuah kamar di paviliumnya. Kamar itu amat bagus dan bersih. Warso diangkat sebagai sopir pribadi karena kesetiaan dan karena Indra merasa aman jika selalu bersama Warso. Sebab ia akan sering keluar kota dan membawa uang dalam jumlah yang besar. Ia amat percaya pada Warso. Apalagi Warso pernah mengagalkan upaya perampokan atas dirinya beberapa waktu yang lalu.

Seiring berjalannya waktu dan aktifitasnya. Vina yang juga menjalankan usaha dari keluarganya, maka Indra meminta Warso agar menyopiri mobil Vina. Indra tidak ingin Vina terlalu sibuk dan terlalu capai jika menyetir sendiri mobilnya dalam bepergian. Indra ingin Warso yang menyetir mobil istrinya itu karena ia telah mengetahui dan merasa Warso amat bisa dipercaya. Ia tidak ada berkeinginan untuk mencari sopir baru. Untuk aktifitasnya iapun masih memiliki sopir kantor yang bisa sewaktu waktu dibutuhkannya. Bagaimanapun Indra ingin agar Vina selalu fit dalam aktifitasnya. Sebagai seorang karyawan Warso hanya menurut saja kepada perintah majikannya itu. Bagi Indra setiap Warso berganti posisi dalam pekerjaan selalu diiringi dengan penambahan isentif gaji juga bonus.Hingga Warso bisa menabung. Vinapun sering memberinya uang dan membelikan pakaian jika sedang singgah pada sebuah pusat perbelanjaan.

Memasuki tahun kedua masa kerjanya pada keluarga itu. Warso berkeinginan untuk mencari pendamping hidup. Ia merasakan hidupnya sepi dan sebagai laki-laki yang normal ia ingin menyalurkan hasrat biologisnya pada lawan jenis. Dengan menikah ia merasa dan berharap agar jerih payahnya akan ada artinya. Ia belum juga menemukan sosok wanita yang diinginkannya. Pada suatu saat Vinapun pernah menanyakan padanya tentang masalah itu. Sebab Vina dan Indra merasa tidak enak hati jika di hari tuanya Warso tidak ada yang merawatnya. Ia tahu sebagai manusia biasa dan laki-laki tentunya Warso yang telah ia anggap keluarga juga perlu sarana dalam penyaluran libido dan pelampiasan sebagai laki-laki, maka dengan itulah ia ingin Warso cepat-cepat mendapatkan pendamping hidup. Sebab jika tidak maka Warso bisa saja melakukan hal-hal yang terlarang menurut ajaran agama dan norma yang ada. Menerima desakan dari majikannya itu, Warsopun berkata jujur bahwa ia belum menemukan wanita yang cocok untuknya. Vinna pun memberikan alternatif agar Warso mencari yang seusia dengannya. Sebab secara lahiriah Warso tentunya tidak akan mungkin dapat mengimbangi hasrat dan gairah wanita muda sesuai dengan usianya. Dan lagi pula Warso tidak mungkin lagi untuk mengikuti cara hidup gadis belia. Tentunya akan merepotkannya. Dengan patuh dan sopan Warsopun mengangguk setuju. Sebab bagi Vinna ,Warso kini telah menjadi anggota keluarganya dan ia pun merasa bertanggung jawab terhadap hidup pembantu pembantunya. Dan tidak heran dengan sopan ia menanyakannya.Semua itu juga merupakan hasil kesepakatannya dengan Indra suaminya.

Sebagai laki laki normal Warso memang terkadang hasrat sexuilnya butuh penyaluran.Tidak heran Warso menjadi uring-uringan dan terkadang beronani. Ia melakukan itu karena tidak tahan akan tuntutan kebutuhan biologisnya. Bermacam macam wanita yang ia bayangkan dalam beronani. Mulai dari artis sinetron hingga wanita yang sering dilihatnya pada sebuah koran atau majalah. Diusianya yang tidak muda itu ia merasa malu untuk mendatangngi lokalisasi. Apalagi ia tinggal bersama majikannya, tentu ia akan merasa malu jika diketahui majikannya. Ia tidak ingin dikeluarkan dari pekerjaan yang halal ini. Baginya bekerja pada keluarga itu telah merubah hidupnya menjadi lebih baik dan terarah.

Hari demi hari keinginan itu semakin memuncak dan dalam aktifitas onaninya tidak jarang ia membayangkan bersetubuh dengan wanita yang tabu untuk ia impikan. Wanita itu adalah Vina. Sebab hampir setiap hari ia selalu bersama Vina dan terkadang terbawa kedalam mimpinya. Padahal ia telah berusaha menepis dan menghapus bayangan Vina yang merupakan majikannya itu. Namun semua itu tidak dapat ia lakukan. Memang ia akui sosok Vina amat menggoda nafsu laki-laki, dan hanya laki-laki bloon dan impoten saja yang tidak tertarik kepada wajah dan bentuk tubuh juga kecantikan Vina. Perasaan tabu dan bersalahnya semakin menipis selama ia terus melakukan onani dengan membayangkan wajah dan sosok Vina. Awalnya ia hanya iseng, namun lama kelamaan ia semakin ketagihan. Warso tahu tidak sedikit dari laki-laki yang ditemuinya dan yang menjadi rekan kolega majikannya itu memandang rasa minat kepada Vina. Warso tahu dari cara mereka itu memandang Vina. Tidak terhitung kalinya para laki-laki kolega Vina yang berusaha mendapatkan informasi tentang segala macam yang berkaitan dengan Vina pada Warso, sekedar ingin mendekati majikannya itu. Namun Warsopun masih bisa dipercaya dan tidak mau membuat masalah. Lelaki kolega Vinapun sering mencuri pandang pada bagian-bagian tubuh Vina yang sensitif. Itu pernah terpergok Warso. Namun semua itu masih dalam batas toleransi karena ia sadar majikannya memang menarik dan ia tetap memegang teguh kepercayaan yang diberikan Indra dan Vina hingga iapun tidak mau menjerumuskan majikannya itu. Juga karena sikap dan sopan santunnya Vina semua godaan dari relasinya itu hilang begitu saja.

Namun bagi Warso yang sering bepergian dan bersama Vina amat sulit menghapusnya. Apalagi jika telah berada dalam mobil amat kentara wangi yang terpancar dari tubuh Vina tercium olehnya. Keharuman itu amat menggoda gairah kelaki-lakiannya.

Pada suatu malam saat ia akan beronani, Warso merasa gelisah karena ia belum juga klimaks, padahal ia telah memimpikan Vina dalam berbagai pose. Matanya pun sulit untuk tidur malam itu. Ia lalu keluar dari kamarnya dan menghidup udara malam . Entah dari siapa perintah itu, perlahan kakinya melangkah kepojok rumah induk. Dilihatnya cahaya lampu dikamar itu masih menyala. Padahal waktu telah menunjukan pukul 23.30. Biasanya kedua majikannya itu telah tidur. Niat isengnya muncul. Ia mengendap seperti maling dan itu pernah dilakukannya di waktu muda dulu. Untunglah diluar kamar itu tidak ada penerang dan hanya di hiasi oleh rumput Jepang dan tiang lampu yang tidak berfungsi. Lalu ditempelkannya telinganya ke daun jendela kamar itu. Sesaat terdengar dengusan nafas tertahan dari dua orang anak manusia yang sedang bersetubuh. Warso mengetahui itu adalah suara kedua majikannya sedang berhubungan badan. Ia berusaha mencari celah di jendela itu. Kemujuran masih berpihak kepadanya malam itu. Lewat celah yang tidak tertutup kordyn dari dalam kamar itu ia dengan mata telanjang dapat melihat aktifitas suami istri itu. Keduanya sedang melakukan persenggamaan. Tubuh Indra dan Vina tidak tertutup oleh sehelai benangpun. Indra terlihat sedang menaiki tubuh Vina dan kedua alat kelamin mereka telah menyatu. Dengan gerakan teratur tubuh Indra bergerak maju mundur diantara kedua paha Vina yang terkangkang saat itu. Juga kedua tangannya sibuk menggapai kedua payudara istrinya yang putih dan mulus itu. Besarnya hanya sekepalan tangan Indra suaminya. Melihat itu Warso lalu memegang penisnya yang mulai mengeras sebagai reaksi atas apa yang dilihatnya. Matanya tuanya terpaku melihat kedua tubuh manusia yang sedang bersebadan itu. Namun yang menjadi perhatian Warso hanyalah tubuh Vina. Saat itu Vina tidak mengenakan apapun juga, tubuh dan gelantungan payudaranya yang putih dan amat indah itu basah oleh keringat hingga mengkilat dan bergoyang mengikuti gerakan tubuhnya yang sedang digenjot oleh suaminya. Selama ini Warso hanya melihat sosok Vina yang terbungkus pakaian dan sedikit celah didadanya saat Vina memakai blus kerja. Pada malam itu ia dengan leluasa dapat menyaksikan tubuh yang selama ini jadi impiannya terbuka seutuhnya.

Terlihat Vina hanya memejamkan mata dan memalingkan kepalanya kekiri kanan seolah kesakitan menahan bobot tubuh dan sodokan penis suaminya ke liang kemaluannya. Padahal Warso memperhatikan penis Indra tidaklah terlalu besar. Namun Vina tampaknya kesakitan terdengar dari rintihan erotis dan dengusnya saat itu. Ia hanya bertumpu pada bahu Indra. Tubuh Vina amat putih dan tiada cacat sedikitpun. Apalagi telah basah oleh keringat saat itu. Beberapa saat kemudian Indra menyudahi sodokannya. Tampaknya ia telah klimaks. Memang saat itu Indra telah menyudahi persetubuhan itu secara sepihak. Perlahan kemudian ia tarik kemaluannya dari liang sanggama Vina. Penisnya terlihat telah loyo dan basah oleh lendir sperma yang bercampur lendir vagina istrinya. Namun Vina terlihat kecewa. Vina hanya memalingkan wajahnya yang juga ada burtiran keringat itu dari Indra. Saat Indra rebah disampingnya. Kejadian itu terlihat jelas oleh Warso. Sisa sisa kekecewaan di timpakan Vina dengan menutup tubuh bugilnya dengan selimut lalu ia berbaring membelakangi suaminya. Warso melihat itu merasa yakin bahwa Vina tidak pernah mendapatkan kepuasan dari persenggamaan bersama suaminya. Melihat aktifitas dikamar itu telah selesai, Warso lalu kembali kekamarnya. Diapun melanjutkan onaninya dengan membayangkan wajah dan tubuh Vina yang ia saksikan dengan jelas saat tadi. Tidak lama kemudian ia dapat klimaks dengan mudah, mungkin karena telah mengetahui lekuk lekuk rahasia di tubuh Vina.

Esok harinya Warso terus berkutat dengan kesibukannya. Iapun sempat memperhatikan tingkah suami istri itu. Ia tidak melihat wajah muram atau masam di wajah Vina. Pagi itu Vina memang selesai keramas dan dengan rambut basah tetap menyambut suaminya untuk sarapan pagi dengan rasa cinta. Tidak terlihat kekecewaannya malam itu. Memang beruntung Indra mendapatkan Vina yang cukup dewasa dalam bertindak dan menempatkan masalah ranjang habis dikamar saja. Vina tetap memegang teguh ajaran agama dan leluhurnya yang slalu di berikan oleh orang tuanya agar seorg istri yang nrimo kepada suami. Semenjak ia menikah ia telah berjanji untuk menerima suaminya apa adanya baik kekurangan maupun kelebihannya. Baginya urusan ranjang biarlah habis dikamar saja dan tidak akan ia bawa sampai keluar kamar. Itu sesuai dengan ajaran ibunya yang cukup pandai mendidik anak2nya itu.

Semenjak mengintip malam itu, Warso menjadi ketagihan untuk slalu mengikuti aktifitas ranjang pasangan itu. Warso menjadi hafal saat saat pasangan itu bersebadan. Iapun seolah mengetahui jadwal dan rutinitas suami istri itu. Iapun amat ketagihan karena dapat dengan rutin menyaksikan ketelanjangan dan segala rahasia ditubuh Vina. Warsopun mengetahui bahwa Vina memang tidak pernah orgasme dan Indra adalah seorang suami yang tidak mengetahui keinginan istrinya. Indra dilihatnya terlalu egois dan hanya mengejar kenikmatan sendiri. Warsopun menjadi kasihan pada Vina, karena Vina yang cantik hanya dijadikan pajangan dan sarana kepuasan Indra semata. Bagi Warso, sayang sekali jika istri secantik Vina tersia sia dan seakan terabaikan keinginannya sebagai wanita dewasa, iapun berandai andai jika ada wanita secantik Vina jadi istrinya ia berjanji akan memuaskannya secara lahir bathin. Tidak akan ia lihat istrinya menangis kecewa hanya karena hubungan sex yang tak terpuaskan, malah ia ingin istrinya menangis puas dalam orgasme.

Waktu berjalan terus dan rutinitas baru itupun dilakoni Warso. Warsopun akhirnya terobsesi untuk mencampuri urusan rumah tangga Indra. Padahal Warso bukanlah siapa siapa dari pasangan itu. Ia tidak sadar siapa dirinya dan apa tugasnya. Warsopun mereka reka sebab kenapa sampai saat itu Vina belum juga hamil. Padahal ia tahu segalanya telah dimiliki keluarga itu. Dan secara tak sengaja ia mendengar keluhan Vina tentang desakan dari orangtua Indra dan Vina agar mereka cepat-cepat punya keturunan. Padahal selama ini Vinapun selalu berupaya agar selekasnya hamil. Sampai sampai merekapun tidak menggunakan alat kontrasepsi dalam berhubungan suami istri. Segala upaya telah mereka lakukan dengan konsultasi pada seorg dokter langganannya. Dan kesehatan mereka berduapun cukup sehat dan subur untuk bisa hamil. Vina pun tanpa sengaja pernah mengeluh pada Warso saat didalam mobil setelah pulang dari periksa ke dokter. Sebagai sopir atau pembantu Warsopun hanya berucap seadanya pada Vina agar slalu sabar, mungkin saja belum saatnya Vina hamil.

Dan setiap yang terlihat oleh Warso saat suami istri itu bersebadan, mereka selalu polos tidak menggunakan kontrasepsi apapun. Apalagi ia yang sering mengantar Vinapun ke dokter kandungan hanya konsultasi soal keinginan mereka agar secepatnya memiliki momongan.

Aktifitas onani Warsopun semakin menggila. Ia seakan kehilangan akal sehat. Ia seakan tau penyebab masalah Vina itu. Kuncinya adalah Indra terlalu egois dan iapun berkesimpulan bahwa iapun bisa menghamili Vina, jika diberi kesempatan. Bisik… hatinya. Ia tidak lagi memandang Vina sebagai majikannya yang harus ia jaga.

Sekarang iapun berobsesi untuk memasuki kehidupan Vina dan menikmati kehangatan tubuhnya, juga kalau bisa merampasnya dari tangan suaminya yang syah. Apapun caranya baik secara halus atau kasar.Ia amat terobsesi dan terpesona akan sosok Vina yang cukup cantik dan masih keturunan terhormat itu. Alangkah bangganya ia jika kelak dapat keturunan dari wanita darah bangsawan dan cantik itu. Apalagi yang ia tahu, saat bersebadan dengan suaminya Vina terlihat selalu kesakitan di kemaluannya padahal penis suaminya itu tidaklah lebih besar dari jempol Warso. Berarti jepitan liang kemaluan Vina amat seret dan belumlah longgar seperti wanita wanita yang dulu pernah ia gauli. Apalagi Indra yang diluar terlihat gagah, jantan dan bijaksana juga amat peduli pada semua org ternyata di atas ranjang tidaklah ada apa apanya.

Warsopun berpikiran bisa saja Vina jatuh ketangan laki laki lain,sebab dalam menjalankan usahanya ia juga memiliki bawahan dan kolega dari pria pria mapan dan terpelajar. Mengingat kemungkinan terburuk yang akan melanda Vina karena tekanan mertua dan orangtuanya juga kondisi ranjangnya yang tidak pernah membuatnya puas segalanya bisa terjadi. dan pria mana yang akan menolak jika ada sinyal dari Vina. Namun semua perkiraan Warso itu tidaklah terbukti. Tidak ada sedikitpun Vina berubah,ia masih tetap setia pada suaminya. Dan Warso semakin merasa sangat berkepentingan dengan semua itu. Ia ingin Vina jatuh kepelukannya tanpa ada gangguan dari pihak manapun juga.

Pikiran sesat dan keinginan tobatnya telah terkubur didalam hati Warso. Semuanya tertutup oleh hawa nafsu kebinatangan yang menggiringnya kepada perbuatan nista. Denganmenggunakan sedikit uang dari tabungannya. Warso mendatanggi seorang dukun yang ia kenal saat di Surabaya dulu. Untuk kesanapun ia berbohong dengan alasan ada keperluan dengan kerabatnya. Warso tidak lagi memikirkan akibat perbuatannya. Padahal selama ini Indra dan Vina amatlah baik kepadanya. Indra telah menganggapnya sebagai saudaranya dan orang tuanya, Vinapun demikian.Padahal apa yang dipikirkan Warso itu amat berlawanan dengan kenyataan yang dialami Vina. Bagi Vina kepuasan sexuil itu merupakan masalah pribadinya dengan Indra dan iapun tidak mempermasalahannya. Ia sudah cukup merasa bahagia dengan keadaannya yang sekarang dan iapun tetap rukun-rukun saja dengan suami yang amat ia cintai.

Adapun Warso bertindak dengan memakai jasa dukun karena ia sadar, tidak akan diterima Vina secara baik-baik. Apalagi melihat sosok Warso yang berwajah hitam kasar ditambah usianya yang lebih tua dari kedua orang tua Vina.Warso memang tidak pantas untuk mendapatkan Vina. Apalagi Vina dari keluarga terhormat dan terpelajar.Merasa tidak pantas itulah makanya Warso menggunakan bantuan Dukun. Dukun itu mensyaratkan Warso untuk membawa celana dalam yang habis dipakai Vina juga beberapa helai rambut yang dengan mudah ia dapatkan Warsopun berusaha dengan mencuri cd bekas pakai itu dari mesin cucian,sebelum dicuci mbok Asih. Iapun lalu menyerahkan semua itu pada dukun itu.Dan dimalam yang sepi dan dingin pada saat Jumat Kliwon itulah Warso melakukan ritual yang diajurkan dukun itu dengan betelanjang bulat. dalam ritualnya itu pun Warso diinstruksikan untuk melakukan onani sampai klimaks dan semua itu merupakan ritual yang akan dirasakan Vina saat tidurnya itu. Sedang sperma yang muncrat dari onani Warso saat ritual itu akan bersenyawa didalam rahim Vina secara gaib.

Menguna gunai Vina sanagt susah. Ia memiliki suatu kekuatan yang sulit ditembus oleh kekuatan gaib di liang kemaluannya. Itu hanya diketahui oleh orang-orang tertentu saja. Dan jika Warso berhasil maka Vina akan sepenuhnya terikat pada Warso. Indra tidak akan bernafsu lagi untuk meniduri istrinya jika Warso telah berhasil menumpahkan spermanya. Dan juga jika Warso berhasil, Kehidupannya akan terjamin dan berwibawa dimata umum juga secara materil akan meningkat. Itulah nasehat dari dukun itu. Dengan bersemangat Warso tidak sabar untuk menunggu saat yang dinantikannya itu.

Sesuai petunjuk sidukun Vina telah bisa di tiduri Warso, namun ia harus melihat waktu yang tepat saat suaminya tidak ada. Dan masih menurut dukun itu, pada awalnya Vina akan menolak keinginan Warso itu secara keras. Dan perlawanan dari Vina akan mengendor semenjak matanya dipandang saat akan di tiduri juga. Dan untuk menundukkannya Warso harus pintar-pintar mengatur cara dan strateginya. Wejangan dari dukunnya itu. Sebab untuk menundukkan Vina sangat besar resikonya. Apalagi Vina masih terikat pernikahan yang syah dengan Indra.

Seminggu setelah ritual yang dilakukannya itu, Warso akhirnya mendapatkan saat yang dinantikannya itu. Saat saat pelaksanaan itu dapat dilakukannya pada waktu Indra yang setiap bulannya melakukan perjalanan bisnis ke Jakarta. Biasanya Indra ke Jakarta pergi selama 5-7 hari tergantung lamanya urusannya. Warso telah hafal akan jadwal perjalanan Indra. Dan sore itu Indra berangkat ke Jakarta dengan memakai mobil pribadinya. Sedang sopirnya dipakai yang biasa di kantornya, sebab Warso diwanti-wanti untuk menjaga rumah dan Vina berikut isinya. Warsopun menerimanya dengan senang hati. Dan yang lebih membuatnya girang adalah kebetulan saat itu Mbok Asih pembantu keluarga itupun izin pulang ke desanya karena cucunya akan khitanan. Mbok Asih minta izin pada majikannya selama 4 hari. Nah kesempatan itu akan membuat Warso bisa mereguk sepuasnya kebersamaan dengan Vina tanpa adanya gangguan dari orang lain.

Sore itupun Warso menutup pagar rumah yang tinggi itu dengan rapi dan menguncinya dari dalam. Iapun lalu masuk kedalam kamarnya dan mandi. Setelahnya Warsopun mengambil ramuan yang telah ia sediakan biasanya ia minum untuk menjaga kondisi tubuhnya agar bugar dan staminanya terjaga. Ramuan itu adalah ramuan khas tradisonal daerahnya yang telah terbukti khasiatnya terutama untuk pria yang akan melakukan hubungan sex. Sengaja ia minum agar nanti jika melakukan persebadanan dengan Vina akan dapat membuatnya lebih jantan dan bisa mengalahkan gejolak darah muda Vina. Sebab untuk yang pertama kali itu ia harus meninggalkan kesan yang mendalam pada Vina untuk menghantarkannya ke sorga dunia seutuhnya dalam hub laki laki perempuan.
Selesai minum jamu kuat itu iapun beranjak kedalam rumah induk untuk makan. Dan sekalian melihat situasi kondisi rumah saat itu. Memasuki ruang belakang dan menuju dapur dan dekat sebuah meja ia berhenti lalu meraih piring dan nasi. Ia lalu duduk dan makan dengan lahap maklum rasa lapar menggerogotinya. Ia sesekali menoleh kedalam rumah untuk melihat majikannya. Ia tidak melihat Vina. Mungkin Vina masih dikamar pikirnya. Dalam keasyikannya makan itu , Vina muncul dari dalam rumah dengan pakaian kimono sutra yang amat serasi dengan kulitnya yang putih mulus itu. Tampak rambutnya sedikit basah, rupanya Vina barusan selesai mandi. Tersirat kecantikannya secara alami tanpa polesan make-up dan wangi tubuhnya saat melintas didepan Warso yang sedang makan di ruang dapur yang luas dan mewah itu mereka bertemu. “Oh… pak Warso… lagi makan ya? Ditambah nasi dan lauknya pak?” tawar Vina. “Sudah… bu? Saya dari tadi makan dan hampir selesai . jawab Warso. Ibu mau makan juga ya? tanya Warso. “Iya… pak. Tapi kenapa bapak menyudahi makan? Saya jadi ndak enak… lho… ” kata Vina, dengan logat jawanya yang kental. “Ah… bener lho bu… saya udah rampung makannya… masak saya bohong… ??? Ntar mau ditaruh dimana makanannya?” jawab Warso sambil bercanda. “Tapi… bapak temenin saya makan ya? Soalnya mbok Asih nggak ada. Bapak bikin aja kopi… biar ada yang nemenin saya.” imbuh Vina ramah. “Tapi bapak jangan sungkan-sungkan lho? Nanti saya lapor mas Indra jika bapak sungkan-sungkan… ” ancam Vina. Memang dalam keluarga nya Vina dan Indra tidak membedakan para pembantunya itu. Bagi mereka soal pekerjaan adalah urusan tersendiri dan jika telah berada di rumah berarti mereka adalah keluarga. Indra akan marah jika tahu para pembantunya bersifat terlalu sungkan-sungkan dan malu malu. Mereka amat terbuka pada dan sering bertukar pikiran dengan pembantu-pembantu nya. “Baiklah bu?” jawab Warso yang kemudian berjalan dan membuat kopi setelah ia mencuci piring makannya di wastafel.

Ia lalu duduk semeja dengan Vina yang saat itu sibuk menyendok nasi ke mulutnya yang mungil itu. Warso duduk didepan Vina sehingga ia dapat dengan bebas memandang kecantikan majikannya itu dari dekat. Dalam saat itu, mata Warso terus memperhatikan Vina yang terlihat sibuk makan dan mengunyah makanannya sambil melihat sebuah tabloid. Matanya terus memperhatikan sosok yang selama ini menjadi impiannya itu.Mulai dari jari yang halus dan kuku yang agak panjang dan dihiasi cincin kawin emas putih yang dihiasi dari berlian di jari manis itu. Pandangannya beralih ke dada Vina yang besarnya sempurna dan masih kecil untuk ukuran telapak tangan Warso yang kasar dan penuh bulu itu.Air liunya ditelannya membayangkan tubuh majikannya yang duduk didepanya itu. Tenggorokannya seakan kering menahan gejolak dalam dadanya. Juga terlihat lehernya yang jenjang juga putih dan dihiasi seuntai kalung emas putih berlogo V. Tanpa ia duga, lalu pandangan Warso bertabrakan dengan mata Vina. “Vina pun berkata, ada apa pak? koq memandang saya seperti itu?” kata Vina. “Abis ibu amat cantik dan menarik lho. Jadi wajar khan saya memandang wajah ibu yang cantik dan alami itu khan?” jawab Warso polos. “Ah!… bapak bisa aja.” Sahut Vina. “Saya biasa saja lho pak? ndak ada yang istimewa lho?” imbuh Vina merendah. “Nah makanya bapak cepat cepat cari istri biar ada yang merawat dan bisa bapak lihat setiap hari. Kan kasian hari tua bapak nggak ada yang nemanin… juga yang akan merawat bapak,… jika sakit… ” sahut Vina sambil senyum. Padahal saat itu dalam hatinya saat itu amat girang karena pujian dari Warso. “Ah… ibu jangan berkata begitu… , saat sekarang amat sulit mencari wanita yang baik dan setia seperti Ibu. Saya takut nanti ndak bisa membahagiakannya secara materil kalau bathin mungkin bisa, padahal saya hanyalah seorang sopir lho bu… !” terang Warso sambil mengeluh. “Yang seperti Saya?” jawab Vina heran… “Apa saya baik dan setia pak?” tanya Vina lagi atas sanjungan Warso. Ia merasa sumringah dan bangga karena sekali lagi di sanjung sopirnya itu. “Iya… bu… ,selain cantik ibu juga baik dan bisa membahagiakan suami. Makanya den Indra bisa seperti sekarang ini.” Jawab Warso. “Ohhh… bapak ada ada aja. Piye toh pak… apa perlu saya carikan yang seperti itu untuk bapak?” “Bener bu… ?” tanya Warso. “Tenang aja dulu ya pak? Yang sabar… ntar juga ketemu wanita baik koq,” terang Vina. “Baiklah bu… ” Warso mengangguk setuju. “Tapi yang seperti ibu ya… baiknya… atau ibu aja gimana?” gurau Warso. “Hahhhhh… aaapaaa? mbok… ya ngucap… pak????” sahut. Vina,kaget. “Jangan lah pak… ! Itu dosa… pak. Apalagi aku kan ada suami. Lagian ndak ada gunanya lo… pak?” jawab Vinna kaget. “Ah… guyonnya amat sadis ya??? “Bapak bisa aja… ” jawab Vina sambil senyum . “Ah… saya juga bercanda lho buk???? Kalau iya juga nggak apa apa?” sahut Warso sambil senyum lagi. “Ah sudahlah pak jangan bicara masalah itu lagi doang… saya ndak enak.” Imbuh Vina lagi sambil menyuapkan sendok makan ke mulutnya lagi.

Selesai makan Vina lalu bangun dari meja makan dan berjalan kearah wastafel mencuci piring juga tangannya. Warsopun memandangnya dari belakang tampak olehnya bayangan tali bra yang halus dan garis celana dalam majikannya itu. Setelah itu Vina berjalan kearah ruang tengah rumahnya. Iapun duduk pada sebuah sofa dan menyetel televisi. Dalam saat itu, iapun memanggil Warso untuk nonton tv di ruangan yang luas itu. Sebab tadinya ia lupa menawarkan pada Warso. “Ayo… pak… nonton bareng didalam aja. Kan bapak bisa nonton sambil minum kopi.” ajak Vina. Dengan ogah-ogahanan yang dibuat buat Warso akhirnya masuk keruang tengah itu sambil membawa kopi. “Wah bagus ya bu gambarnya. Apalagi tvnya besar dan suaranya amat jelas.” kata Warso menutupi kegugupannya. “La… iyalah pak… ” jawab Vina. “TV yang dikamar bapak apa masih bagus? Nanti saya minta mas Indra mengganti dengan yang sedang ya pak?” tanya Vina. “Ooo… masih bagus koq bu… ” jawab Warso.

Ia gugup karena sedang mencari jalan dari mana ia akan mulai merayu Vina yang saat itu duduk di sofa panjang itu. Dalam pikiran Warso terus berkecamuk mencari cara agar bisa melaksanakan keinginannya itu. Ia terlihat gelisah dalam duduknya. Kegelisahan Warso itu di tangkap Vina. “Ada apa pak? Kelihatannya bapak gelisah ada yang dipikirkan ya?” tebaknya. Dengan keringat yang mulai membasahi dahinya Warsopun menjawab. “Bu?… saya sebenarnya merasa bersalah jika mengatakannya. Ibu tidak marah jika saya mengatakannya khan?” jawab Warso. “Lah… nggak lah pak… apa sih?” tanya Vina. “Begini lho bu… ” terang Warso… “Jika saya… selalu dekat ibu… , sss… saya jadi tidak tahan akan godaan yang slalu datang itu bu?” terang Warso… “dan lagian ibu begitu cantik… terus terang. Saya tidak tahan… bu, atas godaan yang selalu datang itu bu?” katanya polos sambil meraih tangan Vina.

Saat itu Vina masih membiarkan Warso meraih tangan dan meremas jemarinya yang halus dan lembut itu. Bulu kuduknya pun merinding karena ia tidak pernah dipegang laki2 lain selain suaminya. Namun ia masih mentolerir tindakan sopirnya itu yang ia anggap orang tua yang harus ia hormati. Namun mendengar pengakuan jujur Warso itu, mimik wajah Vina menjadi bersemu merah menahan kaget dan marah juga pedih. Wajahnya yang putih itu berubah bersemu merah. Ia tau maksud dari perkataan pembantunya itu.Iapun tidak menduga kata-kata yang keluar dari mulut orang yang selama ini ia anggap sebagai pelindung dan pembantunya itu. Namun tangannya masih di genggamWarso. Dalam kebisuan dan kebingungngannya saat itu Warso pun berusaha mencium jari tangannya yang halus. Jelas sekali bahwa pembantunya itu ingin mereka berdua berselingkuh dan menghendaki hubungan yang intim antara pria dan wanita. Dengan sedikit hentakkan Vina menarik tangannya dari pegangan Warso dan menampar pipi laki-laki tua itu. Sambil berbalik ia berlari kearah kamarnya.Vina merasa malu karena Warso dengan berani memegang tangannya. Ia terlihat kecewa dan bingung.

Dikamarnya ia hempaskan tubuh rampingnya kearah ranjangnya. Ia merasa menyesal telah menampar Warso. Seumurnya belum pernah bertindak kasar. Jangankan menampar berkata kasarpun tidak pernah dilakukannya. Rasa bersalah itu telah menggerogotinya. Warso mendapat perlakuan itu mejadi kaget dan bercampur rasa marah. Seumurnya belum pernah di tampar oleh wanita apalagi dengan telak seperti itu. Namun ia ingat kata-kata dukun yang telah memberi tahukannya tentang kemungkinan itu. Iapun bisa menerimanyan meski pipinya sedikit perih namun rasa optimisnya muncul dan tidak lama lagi ia akan berpesta diatas tubuh Vina yang cantik dan sintal itu.

Setelah mendapatkan perlakuan telak dari Vina itu membuat Warso berjalan ruang dapur dan mengunci pintu dari dalam sebab ia akan berada didalam rumah induk itu hingga pagi hari. Sebab bagaimanapun ia malam itu harus bisa menaklukkan Vina baik secara lembut atau kasar. Iapun bertekat akan menghantarkan Vina sampai puas dalam behubungan sex, iapun tidak akan memberi waktu Vina untukmengenakan pakaianannya selama ia dalam kamar itu. Sebab telah diberi lampu hijau oleh dukunnya dan guna gunanya telah mulai bekerja. Selesai mengunci iapun lalu kembali kedalam ruang tengah menuju kamar Vina yang ia lihat tidak tertutup rapat . Berarti secara tidak langsung Vina mengundangnya masuk kamar. Namun saat ia berjalan itu terdengar deringan telpon. Ia tidak berani mengangkat. Dan lalu ia panggil Vina. “Bu… ! bu… Vina! Ada telpon nih… ” sahutnya dari luar kamar. Tidak lama kemudian terlihat Vina keluar kamar dengan mata sembab dan sisa air mata yang ia hapus. Ia angkat gagang telepon itu. Rupanya Indra suaminya ditelepon itu. Kemudian mereka terlibat pembicaraan dan di tutup kembali oleh Vina setelah terlebih dahulu memberi kecupan sayang pada suaminya lewat telepon itu Warso masih di ruangan itu dan sempat mendengar pembicaran mereka. Rupanya Indra memberitahu bahwa ia sedang dalam perjalanan.

Selesai meletakkan gagang telpon Vina berbalik dan mengucap terima kasih pada Warso. “Trima kasih pak… ” katanya, dengan suara sengau. “Maafkan saya tadi ya pak? tadi saya terlalu emosi. Dan kejadian barusan tidak pantas untuk kita pak! apalagi saya kan seorang istri dari majikan bapak yang harus bapak lindungi dan jaga juga secara tidak langsung atasan bapak!” terang Vina lagi. “Iya bu… saya tahu dan mengerti bu,” jawab Warso. “Tapi saya tidak kuasa menahan gejolak rasa dalam diri saya yang slalu datang itu bu, apa salah saya secara langsung mengeluarkan uneg-uneg bu?” jawab Warso pada Vina sambil mendekat. Ia lalu meraih bahu Vina. Vinapun menepisnya dan berlalu kekamar sambil memandang tajam padanya. Vina lalu duduk di depan kaca hiasnya dan memandang kekaca itu. Ia tahu Warso mengikutinya kedalam kamarnya. Sambil menyisir rambutnya yang kusut saat ia hempaskan tubuhnya di ranjang yang luas itu, iapun berkata. “Pak… kenapa bapak mengikuti saya? Apa… yang bapak inginkan pak… ? Jangan pak! Saya tidak ingin berkhianat dan menyeleweng dari suami yang saya cintai. Saya takut pak? Ini dosa besar pak? Apalagi cuma kita berdua dikamar ini bukan suami istri… !!” terang Vina sambil sesegukkan menahan rasa sesal dan kecewa yang amat sangat. “Bapak tahu sendiri khan?” terang Vina. Mendengar kata-kata itu Warso terus berjalan kearah tempat duduk Vina. “Bu… !” jawab Warso. “Saya menyayangi ibu?” “Saya tahu ibu tidak bahagia… saya yakin bisa mengisi kegersangan bathin… ibu itu… meskipun saya tidak sekaya den Indra.” terang Warso. Vina berbalik… “Kenapa bapak bisa bilang saya tidak bahagia? Apa hak dan urusan bapak? Bagi saya… kebagiaan itu telah saya rasakan dan saya tidak menuntut yang macam-macam… ” terang Vina dengan sengit. Lalu Warso meraih bahu Vina dan memandang matanya dalam dalam. “Saya tahu ibu tidak pernah bahagia sebagai wanita apalagi dengan urusan diatas ranjang… bathin ibu selalu gersang, benar khan? Ibu jangan munafik dan menyembunyikan masalah itu, bu? Apalagi sampai saat inipun ibu belum juga hamil dan itu adalah idaman ibu juga khan?” serang Warso. “Apa itu yang dikatakan bahagia? Bu… jangan ibu sembunyikan gejolak yang ibu miliki itu. Ibu masih muda, cantik dan berkecukupan. Saya bisa memberi apa yang tidak ibu dapatkan dari den Indra… ” kata Warso dengan kurang ajar. “Ibu tidak harus berpisah dengan den Indra, dan kita melakukannya dengan rahasia. Selama ibu masih bisa menutup rahasia itu siapapu tidak akan tahu bu… ?” terang Warso. “Dan lagian den Indra mengharap ibu hamil apalagi orangtuanya amat ingin, apa ibu ingin den Indra mencari wanita lain dan menduakan ibu?” serang warso lagi. Mendengar kata-kata terakhir dari sopirnya itu, membuat Vina kehabisan kata-kata pembelaan.Vina memang amat mencintai Indra ia tidak ingin cintanya diduakan suaminya. Dan memang hingga tahun ketiga mereka menikah dirinya belum juga memiliki keturunan. Ia semakin terpojok dan bingung untuk menghindar dari serangan kata-kata Warso itu. Keseimbangan pikiran sehatnya hilang. Ia seakan limbung dan mudah goyah. Dalam kebimbangannya itu, ia hanya duduk dan terpaku memperhatikan mata Warso yang berubah liar seperti harimau yang lapar kearah tubuhnya. Suatu kesalahan fatal telah ditambah Vina saat itu, dengan memandang mata Warso. Sikap diam Vina itu dikira Warso adalah penyerahan dirinya pada keadaan saat itu. Dengan cepat ia raih kedua pipi Vina yang halus dan mulus itu dengan tangannya yang kasar dan hitam berbulu itu. Lalu ia tarik wajah Vina kearah bibirnya dan dikecup dengan dalam dan penuh nafsu. Vina berusaha mendorong dan menghindar. Namun apalah dayanya. Syaraf motoriknya seakan lumpuh. Bulu-bulu halus ditangan dan tengkuknya berdiri merasakan aroma syahwat yang dipancarkan laki-laki tua itu. Ia pun larut akan ciuman dan permainan lidah Warso. Sempat ia ingin meludah karena jijik oleh aroma mulut Warso yang habis merokok itu. Namun ia tidak bisa menggerakan tubuhnya yang ramping karena ditempel ketat oleh Warso. Kuluman dan permainan lidah itu berlangsung cukup lama. Saat itu ludah Warso tertelan oleh Vina begitu juga sebaliknya.

Kemudian mulutnya terus bermain disekitar dagu dan leher jenjang Vina. Warso sempat merasakan kelembutan dan kekenyalan payudara Vina yang menempel pada dadanya saat ciuman itu.Apalagi wangi tubuh yang dipancarkan dari aroma parfum issey miyake yang biasa dipakai Vina amat membuatnya semakin bernafsu pada tubuh mulus majikannya itu. Merasa tidak ada lagi penolakkan dari Vina, maka ia meningkatkan serangannya kearah payudara Vina yang masih tertutup kimono dan bra itu. Sebelah tangannya meraih payudara kiri Vina. Amat terasa sekali kelembutan dan kehalusannya. Vina hanya memejamkan matanya. Rasa penolakan dan bangkitnya nafsu saling muncul di kepalanya. Namun Vina seakan tidak mampu untuk mengadakan penolakan. Iapun lalu meraih kepala Warso yang beruban dan terlihat ketuaannya itu. Kimono sutranya telah acak-acakan karena kenakalan tangan Warso. Dan disuatu kesempatan Kimono yang halus dan lembut itu berhasil di lepaskan Warso dari tubuh ramping dan mulus itu. Kimono terlempar kelantai yang beralaskan karpet warna biru itu.

Tubuh putih Vina terlihat berkeringat karena gejolaknya, padahal hawa dalam kamar itu cukup dingin karena AC dinyalakan. Aroma dalam kamar itupun memancing Warso untuk terus menikmati inci demi inci sekujur tubuh Vina yang merupakan majikannya itu. Begitupun yang terjadi pada diri Vina, ia tidak lagi sadar tentang apa yang akan terjadi pada dirinya saat itu. Segenap syaraf akal sehatnya seakan lumpuh dan melupakan dengan siapa ia bergumul saat itu. Dalam keasyikan dua jenis mahluk berlainan jenis yang berbeda usia dan status itu akhirnya membuat mereka sangat dekat. Gesekan kulit keduanya terasa nyata bagi Warso. Tanpa terasa keadaan tubuh Vina semakin tidak beraturan. Bagian penting dari tubuhnya hanya tertutup Bh dan celana dalam saja. Warso lalu menggiring Vina ke ranjangnya yang luas berbentuk antik dan empuk itu. Diranjang itu lalu ia baringkan tubuh yang sangat cantik dan menggoda itu dengan hati-hati. Vinapun menurut saat dibimbing Warso untuk rebah diranjang yang biasa ia pakai dengan suaminya itu.

Vina pun terbaring di ranjangnya dalam keadaan tubuh yang basah oleh keringatnya sendiri akibat reaksi dari rangsangan yang diberikan pak Warso. Rasa malu didirinya ia ungkapkan dengan merapatkan kedua pahanya. Ia merasakan saraf dari alat vitalnya telah memberikan sinyal bahwa ia telah mulai bereaksi. Itu dirasakannya karena rasa basah pada organ intimnya yang siap untuk tahap selanjutnya. Warsopun lalu berdiri dan melepaskan pakaiannya. Iapun hanya meninggalkan celana dalam saja. Tubuh tuanya terlihat hitam legam dan masih kuat dan dipenuhi tato di lengan dan pinggangnya. Lalu ia naik keatas ranjang tempat Vina terbaring . Warso kembali meraih dagu Vina dan menghirup mulut mungil itu untuk beberapa saat. Disuatu kesempatan tangannya memilin payudara Vina yang kiri. Bra Vina saat itu masih melekat didadanya. Lalu tangan kiri Warsopun bergerak melepaskan pengait bh Vina yang sempat ia lihat bernomer 34b itu. Ia tahu bra Vina berharga mahal. Karena ia pernah melihat struk pembelian bra itu yang tercecer di rumah itu. Bra itupun ia letakkan ke pojok ranjang. Sekarang buah dada yang mulus dan putih itu telah terbuka seutuhnya. Seakan mengundangnya untuk menjamah dan memilinnya. Vina berusaha menutup payudaranya itu dengan tangannya,namun Warso berhasil mencegahnya. Dengan lemah lembut Warso memilin dada Vina dengan lembut lalu mulutnya pun menjilat puting Payudara yang kemerahan itu. Mendapat rangsangan dan kecupan mulut dar Warso membuat Vina seakan terbang keawang awang. Warso memperhatikan kedua bukit dada Vina amat putih jernih hingga menampakkan bilur merah aliran darahnya yang halus.

Warso terus saja memilin payudara itu dan mengemutnya dengan mulut seperti bayi yang sedang menetek pada ibunya. Vina hanya meronta manja dengan menghentakkan kakinya ke sprei sedang tangannya meraih rambut Warso. Dengus dan rintihan manja keluar dari mulutnya yang mungil. Beberapa lama kemudian Warsopun puas dengan dada Vina dan wajahnyapun turun keperut terus berhenti di selangkangan Vina yang tertutup cd yang bermerek Wacoal. CD nya bewarna putih. Kain penutup itu terlihat basah. Warso tahu itu bukanlah keringat tapi air dari dalam kemaluan Vina yang keluar karena rangsangannya. Warso lalu memandang kemaluan Vina yang masih tertutup itu dari dekat. Bayangan rambut halus yang tumbuh disekitar liang kelamin itu tampak jelas. Warso mendekatkan wajahnya ingin menghirup aroma wangi dari kemaluan wanita cantik itu. Ia pun sadar Vina selalu menjaga kebersihan organ intimnya. Vina yang saat itu mengetahui Warso yang terus memandangi organ intimnya lalu semakin merapatkan pahanya. Rasa malu pada dirinya seakan ia tutupi dengan sikap demikian. Merasa Vina telah berada dalam genggamannya, Warso lalu berusaha melepaskan penutup itu. Ia ingin melihat isi kemaluan Vina dari dekat. Namun sikap Vina saat itu membuatnya berfikir lagi, dan timbulah akalnya untuk mencium kaki Vina. Warsopun menciuminya mulai dari telapak kaki lalu kebetisnya mulus dan ibarat mbunting padi dan putih bersih itu. Vinapun akhirnya lengah karena kedua betis dan pahanya dijilati oleh Warso. Warso tidak menyia nyiakan kesempatan itu. Salah satu jarinya langsung meraih karet yang melingkari pinggul Vina. Lalu ia tarik karet celana dalam yang basah sebahagian itupun lepas hingga lutut Vina.Vinapun masih sadar lalu ia berusaha merapatkan kembali pahanya. Usahanya sia sia sebab Warso telah memposisikan dirinya berada diantara kedua paha Vina. Hingga gerakan Vina itu menyentuh pinggang Warso. Kedua pahanya tidak dapat lagi ia rapatkan. “Oh… a.a.aduh pak… jangan… yang satu itu pak?… Pak? jangan dimasukkan… aduh… Pak… ” Mohon Vina pada Warso sambil merintih dan menangis. Vina sadar saat sesuatu yang terlarang akan terjadi dan akan merubah jalan hidupnya. “Tenang aja Bu? Ibu tidak akan saya sakiti.” bujuk Warso yang saat itu kembali sibuk meremas dan memilin payudara Vina agar Vina kembali larut oleh nafsunya. Karena kedua kakinya telah terkangkang terbuka dan diantara kedua pahanya ada tubuh Warso. Vinapun terdiam dan kembali menerima suguhan kenikmatan yang diberikan sopirnya itu. Bagi Vina saat itu tiada pilihan lain karena iapun sadar jalan hidupnya akan berubah dan semua itu akan dituntun oleh Warso yang kini sibuk menjamahi setiap lekuk tubuhnya.

Merasa Vina telah terlena,Warso lalu turun kearah kelamin Vina dan mendekatkan wajahnya yang penuh jejak cacar itu pada liang kemaluan Vina. Disana iapun menghirup aroma kewanitaan Vina yang khas dan bersiap menjilatnya. Lalu lidahnya masuk kedalam celah yang masih sempit dan tembam yang dihiasi bulu halus dan tertata rapi. Aromanya membuat Warso seakan ingin lebih lama di celah sempit itu. Rasa asin dan lelehan lendir dari dalam celah itu dilahap Warso tanpa rasa jijik sedikitpun. Vina semakin tidak dapat menyembunyikan rasa nikmat, geli dan gatal pada pusat kewanitaannya saat itu. Selama ia menikah belum pernah merasakan yang namanya oral sex itu. Suaminya belum pernah melakukannya seperti itu. Vina seakan utuh menjadi wanita dan rasa percaya dirinya pun bangkit. Hentakan kaki dan remasan tangannya pada kepala Warso merupakan wujud keinginannya untuk menumpahkan segala rasa yang selama ini terpendam. Warso tahu itulah yang diidamkan wanita muda seperti Vina. Ia ingin Vina dapat bersamanya menikmati rasa keutuhan dalam hubungan sex. Selama ini ia amat kasihan kepada Vina.

Elusan jari tangan dan jilatan mulut Warso di kewanitaan Vina melambungkan Vina kealam sorga dunia yang belum pernah dirasakannya bersama laki laki yang dicintainya. Beberapa waktu karena intensitas rabaan dan remasan jari-jari Warso mampu membuat Vina orgasme. Sebagai perwujudan dari rasa kepuasan itu terpancar dari keluarnya cairan lendir yang sedikit asin dari liang kewanitaan Vina. Tanpa merasa jijik Warso melahapnya hingga tandas. Ia pun memegang mitos bahwa meskipun bukan perawan, namun cairan dari liang kemaluan wanita muda seperti milik Vina itu mampu membuatnya awet muda. Melihat kondisi Vina yang telah orgasme dan melewati masa kegersangan itu lalu Warso pun memposisikan tubuhnya sejajar dengan tubuh Vina yang terbaring telanjang dan mengangkang itu. Kepala penisnya telah berdiri menantang siap untuk masuk kedalam sangkar yang berada di antara kedua paha putih dan mengkilap karena lendir dan keringat itu. Dengan masih basah oleh lendir dari vagina Vina,Warsopun meretas jalan buat kemaluannya untuk masuk.Warso menempelkan dan menggosokkan sedikit sedikit kepala kemaluannya ke celah basah itu. Ia ingin Vina merasa gatal dan penasaran menanti detik detik penyatuan kelamin mereka. Celahnya masih kecil dan seret maklum selama ini hanya digunakan untuk kencing dan berhubungan sex dengan suaminya yang ukuran penisnya tidak lebih besar dari kelingking Warso. Dan untunglah dibibir vagina itu masih ada sisa lelehan lendir, lalu dengan perlahan penisnya ia dorong masuk. Karena licin dan sedikit sempit hanya kepala penis yang berbentuk topi baja itu saja yang muat. Warso lalu mendorong dengan pelan-pelan. Ia ingin merasakan saat saat kehangatan celah itu, juga pergeseran dinding kelamin mereka bersama. Karena besar dan panjang, penis itu seolah menemukan liang buntu. “Ough… aduhhhh… pakkkkk… !!! Pelannnn… !!!!!! Sakittt… grhhh… pakkkkkkkkkkkk… auggghhhh… ” jerit Vina, Sambil mendorong tubuh Warso menjauh. Namun Warso tetap tidak peduli. Kepalang basah kata hatinya. Iapun terus mendorong penisnya masuk perlahan. Gesekan yang ditimbulkan batang penis dan dinding rahim Vina membuat Vina merasakan kesakitan dan nyilu di selangkangannya. Apalagi ia harus menahan bobot tubuh Warso yang terbilang agak berat itu. Mengetahui kondisi dan tidak ingin terlalu membuat Vina tersiksa Warsopun mendorongnya dengan kekuatan penuh. Hingga akhirnya amblas semuanya. Kedua tangannya memegang pinggul Vina dan agar tidak terlepas dari liang itu. Semua itu dilakukan Warso agar Vina tidak mendorong tubuhnya lagi dan melepaskan tubuhnya dari penyatuan alat kelamin mereka itu. Warso tahu bahwa saat itu amat menyiksa Vina karena rasa nyilu dan sakit dikemaluannya. Namun kenikmatan masih dirasakan Warso. Iapun lantas mendiamkan posisi penisnya yang mentok kedasar rahim wanita muda itu.

Perasaan hangat yang dihantarkan dari batang penisnya karena berada didalam rahim Vina membuatnya nyaman dan kenikmatan. Ia ingin mendiamkan posisi itu beberapa saat agar liang kemaluan Vina bisa beradaptasi dengan panjang dan ukuran penisnya. Dalam posisi Warso yang berada diatas tubuh Vina saat itu, membuatnya dapat memperhatikan ekspresi wajah Vina meresapi saat-saat di setubuhinya. Dalam pejaman matanya terlihat tetesan air mata yang mulai menggenang dipelupuk mata Vina. Namun itu tidaklan membuat ciut nyali Warso. Baginya niat semula harus terlaksana. Dan semuanya telah berjalan dengan lancar. Tiada lagi jarak diantara mereka berdua. Vina hanya memejamkan matanya. Sebagai wanita dan juga masih istri seorang pria ia masih merasa malu pada dirinya sendiri. Ia tidak mampu memandang mata Warso yang kini telah berada diatas tubuhnya. Tidak ada lagi yang bisa ia sembunyikan dari Warso saat ini, juga batas antara majikan dan sopir, juga batas darah feodal dan materi semuanya telah hancur saat persebadanan dua manusia berlainan jenis ini berlangsung. Kedua tubuh mereka telah menempel erat dan keringat telah bercampur juga, alat kelamin mereka juga telah begitu menyatu.

Hubungan yang semula hanya formil kini begitu intim antara majikan dan sopirnya yang terpaut usia amat jauh. Tiada yang menduga bahwa seorang laki laki kalangan bawah dan manusia yang tidak berkelas kini bisa dengan leluasa menjamahi dan menyebadani tubuh wanita terhormat dan dari kelas atas. Kini Warso telah menjadi sopirnya diatas ranjangnya. Dan dalam hatinyapun menikmati setiap sentuhan Warso yang lebih tua dari ayahnya itu. Dalam hatinya pun Warso berkata, wah!… Sungguh cantik wanita muda ini saat itu, apalagi saat ia berada dibawah tubuhnya.

Butir butir keringat yang ditimbulkan karena aktifitas mereka itu seakan larut dalam gairah nafsu yang dibakar Warso. Warso lantas menciumi bibir Vina berulang ulang. Dari alisnya yang halus terus bergerak kedahi dan pipi lalu bibir terus bergerak kearah bahunya yang putih bening itu. Dibahu Vina sempat ditinggalkannya cupangan merah. Lalu gerakannya turun keleher yang teruntai kalung berlian itu. Posisinya sudah tidak beraturan lagi. Keringat Vinapun ia hisap. Warso seolah ingin menikmati semua yang ada ditubuh wanita idamannya itu. Dari leher yang putih jenjang itu lalu bibir Warsopun terus merayap kearah buah dada yang telah memerah dan putingnya yang tegak menantang. Puting kecil itu seolah menikmati pilinan dan gigitan kecil bibir tebal Warso. Vinapun kembali naik birahinya. Ia lalu bereaksi dengan memegang bahu Warso. Sedang matanya terlihat sayu. Masa terance mulai datang pada diri Vina. Vina sudah kembali bergairah, Warso pun menarik penisnya yang masih tertancap di vagina yang sempit itu. Gerakan maju mundurnya membuat Vina mengigit bibir bawahnya seolah rasa perih mulai hilang diganti rasa nikmat karena gesekan kulit daerah organ vital mereka berdua. Goyangan maju mundur Warso terus menerus seolah ingin menancapkan penisnya sedalam mungkin Cukup lama ia melakukan gerakan menekan dan memutar liang itu. Beberapa menit berlalu sebuah erangan panjang keluar dari mulut Vina. “Oooughhhhhhh… ough… ooooohhhhhhhhh… pak… ” Tubuhnya mengejang, kakinyapun menekan pinggul Warso. Cengkraman kukunya di lengan Warso yang bertato itu menandakan ia telah orgasme untuk kedua kalinya. Merasa telah membuat Vina orgasme, tubuhnya pun melemah dan tiada lagi daya dalam diri Vina untuk mengimbangi stamina Warso. Melihat kejadian itu Warsopun lalu mempercepat gerakannya, ia pun ingin mencapai klimaks. Namun semua itu terasa agak sedikit lama mungkin karena pengaruh ramuan yang ia minum sore itu dan beberapa menit kemudian barulah ia menumpahkan air spermanya didalam rahim Vina. Spermanya yang tumpah cukup banyak hingga rahim Vina tidak mampu menampungnya hingga tumpah membasahi kain spey ranjang itu. Ada rasa hangat yang di rasa Warso saat penetrasi dilakukannya. Warso lalu mengangkat pinggul Vina. Itu dilakukannya agar air maninya larut dan bercampur dengan sempurna didalam rahim Vina. Ia selalu ingat akan pesan dukunnya itu. Kedua tubuh anak manusia itupun lalu terkulai lemas. Perkawinan alat kelamin mereka masih saja berlangsung. Warso tidak melepaskan penisnya dari dalam liang kemaluan Vina. Ia ingin agar Vina dapat meresapi kehangatan yang diberinya tidak terlewat begitu saja. Sebab ia slalu melihat saat Indra suami Vina selalu mencabut penisnya setelah ia sendiri klimaks. Vinapun menikmati kebersamaan itu

Kehangatan itu didapatnya dari orang lain bukan suaminya. Diatas ranjang yang kain sprey yang telah kusut dan basah itu dua tubuh manusia berlainan jenis menyatu. Tubuh Warso memang sedikit besar dan hitam,hingga membuat tubuh telanjang Vina tertutup oleh tubuh Warso. Alat kelamin merekapun terlihat masih menyambung.

Keduanya saat itu kemudian tertidur karena telah melakukan perkawinan awal yang cukup panas dan sengit. Wangi aroma wangian dari AC saat itu membuatnya tertidur.Dan dimalam yang dingin disertai hujan deras dan sunyi itu tidak ada yang menyangka bahwa di rumah yang megah dan asri itu telah terjadi hubungan mesum antara majikan wanita dengan sopirnya yang telah tua itu. Perkawinan itu berlangsung amat syahdu bagi Vina yang selama ini tidak pernah merasakan sorga dunia. Malam itu adalah hal yang pertama kali dalam hidupnya ia menyerahkan diri kepada seorag laki laki selain suaminya dan sejak malam itu pulalah ia akan terus menjadi sarana pelampiasan nafsu sopirnya itu.

Pada pukul 03.00 dinihari Warsopun terjaga. Ia melihat kesampingnya masih ada Vina yang tertidur dalam keletihan dan tertutup selimut. Warso tidak menyadari kapan ia terdampar kesamping Vina padahal saat itu ia masih diatas tubuh Vina. Warsopun melihat tubuhnya tertutup selimut, namun tidak berpakaian. Masih dalam keadaan didalam selimut dan disampingnya masih ada Vina yang tidur dengan nyenyak sekali.

Memang sesaat setelah tertidur diatas tubuh Vina, Vina terbangun karena tidak kuat menahan bobot tubuh Warso. Warso ia geser kesampingnya dan tubuh itu lalu ia tutup dengan selimut. Kejadian itu tidak disadari Warso. Dan pada saat ia terbangun malam itu, iapun melihat Vina yang tertidur dalam selimut. Iapun membuka selimut itu. Dan memang tubuh Vina masih dalam keadaan terlanjang sama dengan keadaannya. Merasa kedinginan malam itu karena diluaran ternyata turun hujan ditambah hawa AC yang menyala membuatnya merapatkan tubuhnya kearah Vina. Warsopun lalu memeluk Vina seolah seperti istrinya yang syah. Kentara sekali kehalusan tubuh Vina saat itu. Apalagi rasa hangat saat ia peluk. Perlahan nafsunya pun bangkit. Tangannya yang nakalpun meraih payudara yang tak tertutup itu. Payudara yang putih dan masih kencang itu ia pilin.

Beberapa saat kemudian Vinapun terbangun dari tidurnya dan merasa ada yang menggerayanggi buah dadanya. ” Udahan… pakk! Saya ngantuk sekali!, dan capai,” mohon Vina. “Besok aja ya… pak? pagi-pagi kan saya mesti kekantor… ” pinta Vina. “Khan masih ada waktu lain, saya masih capai pak?” pintanya lagi. Lalu dijawab Warso. ” Bu Vina? saya masih kepengin,… terus… apalagi selalu deket ibu saat ini, saya mau lagi… ah… abis enakk… bu. Lagian ibu terlihat cantik jika selalu saya campuri.” Jawabnya sambil meraih buah dada Vina. “Kalau besok kan lain lagi ceritanya, ayolah bu… sebentar aja… ” pinta Warso seolah memelas pada Vina. Vina pun tidak mampu untuk menolaknya meskipun tubuhnya saat itu capai. Ia tidak mampu untuk itu… sebab ia tidak ingin kekasarannya tadi sore terulang lagi.

Dan mulutnyapun tidak menjawab permintaan Warso itu. Ia hanya diam membisu. Dan karena tiada sahutan dari Vina. Warso merasa tidak akan ditolak Vina,lalu terus memilin dan meremas dada itu. Warso lalu melepaskan selimut yang menutupi tubuhnya dan masuk kedalam selimut yang dipakai Vina. Tangan nya mencari liang kemaluan Vina dan mendapatkannya. Jarinya masuk dan membelai daging kecil yang berada di belahan vagina itu. Tidak berapa lama kemudian liang itu mulai basah. Vina telah terbangkit kembali nafsunya. Vina sadar saat itu Warso menginginkan persetubuhan kembali. Iapun tidak ingin didera rasa penyesalan dan pengkhianatan yang dalam pada suaminya. Lalu sebelum persenggamaan kedua itu terjadi iapun berusaha melepas cincin berlian sebagai simbol bahwa ia masih terikat perkawinan resmi sebagi istri Indra. Cincin itu ia lepas dan letakkan di meja kecil di samping ranjang itu. Kelakuan Vina itu diperhatikan Warso. Iapun bertanya, “Kenapa dilepas Bu?” “Ah… saya merasa tidak berhak lagi memakainya pak, saya telah terlalu jauh melangkah dan mengkhianati mas Indra,” jawab Vina. “Tadi saat kita bercampur saya tidak ingat,” terang Vina. Warso hanya diam memandang sorot tajam mata Vina kearahnya seraya melanjutkan aksinya ditubuh yang telah ia kuasai itu. Warso lalu berbalik arah. Ia letakkan kakinya dikepala Vina sedang penisnya menyentuh pipi Vina. Ia minta agar Vina mengulum penisnya. “Jangan yang ini pak? Saya tidak bisa, dan terus terang saya tidak biasa.” kata Vina. “Ah… ibu… awalnya memang jijik, nanti ibu jadi ketagihan.” terang Warso sambil mendorong penisnya kearah bibir Vina.Merasa terpojok dan malu karena mmg tidak ada lagi yang ia miliki, dan banggakan Vinapun akhirnya menyerah dengan terpaksa melakukannya. Sedang Warso lalu menjilat klitoris milik Vina. Tidak semua batang penis Warso dapat masuk kemulutnya. Selain panjang dan besar, juga aromanya membuat perutnya serasan ingin muntah.Warso tidak memperdulikanya ia tetap asyik dengan jilatan pada klitoris Vina. Hingga pagi dinihari itu Vina orgasme lagi dan iapun tidak jijik untuk menelan cairan santan dari liang kemaluan Vina. Sedang Vina yang merasa lemah karena orgasme tetap berusaha membuat penis Warso tegang, namun ia tidak sampai membuat penis itu klimaks. Warso tahu itu adalah hal baru bagi Vina, nanti ia akan terbiasa bisik hatinya.Bibirnya tidak mampu menampung semua batang penis Warso. Kecapaian dibibir Vina dirasakannya. Biarlah air maninya ia tumpahkan didalam rahim Vina. Lalu Warso merubah posisi berhadapan dengan Vina. Kedua kakinya ia tekuk dan di pinggulnya ia ganjal dengan bantal. Ia ingin spermanya tuntas didalam liang itu. Ada rasa rugi jika air maninya tumpah dan terbuang ke kain sprey. Dengan posisi demikian iapun lantas memasuki liang yang masih seret dan basah oleh lendir itu. Tidak terlalu sulit baginya untuk memasuki gerbang surga yang ada dimiliki Vina itu. Mungkin karena dinding kemaluan Vina mulai terbiasa dengan diameter batang milik Warso.

Setelah semuanya amblas, Warso terus menggoyang maju mundur. Iapun tidak mau terlalu menyiksa Vina yang telah terlihat kecapaian. Apalagi dimatanya masih ada jejak tangis dan penyesalan. Mata Vina terlihat cekung.Tangan Warsopun terus meraih buah dada yang mulai tegak menantang itu. Rupanya Vinapun kembali bangkit gairahnya. Gesekan kemaluan mereka beberapa menit menimbulkan bunyi khas persetubuhan yang panas. Tidak lama kemudian Vina pun orgasme dan Warso pun bisa mengiringginya. Semua kejadian itu telah mampu merubah sosok Vina. Secara kasat mata keduanya tidak mungkin lagi bisa dipisahkan.Perkawinan alat kelamin dan tubuh mereka merupakan simbol ikatan mereka. Kulit, keringat, sperma dan segala yang rahasia ditubuh mereka berdua telah mereka perlihatkan. Maka Warso pun harus bisa menempatkan dirinya disaat Vina bersama suaminya dan iapun akan selalu siap jika Vina menginginkan kehangatan darinya.Vina yang sekarang bukan lagi Vina yang kemaren karena sejak rahimnya dibasahi oleh sperma Warso maka iapun secara otomatis dan permanen akan selalu menurut apa yang dikehendaki Warso. Suaminyapun tidak akan bergairah lagi untuk melakukan persebadanan dengan Vina. Dan masa depan Vinapun kini sepenuhnya berada ditangan Warso hingga mereka berdua menjalaninya. Malam itu… Vina memeluk tubuh telanjang Warso, dan berkata… “Pak,… jaga rahasia ini ya?… saya takut pak??? Ini semua adalah kesalahan saya”. mohon Vina. “Tenang saja bu Vina, rahasia ini hanya kita berdua. Ibu terus saja dengan perkawinan ibu dan saya akan memuaskan ibu bila ibu butuhkan”, terang Warso. Tidak lama kemudian mereka berdua lalu tidur malam itu dikamar yang biasa digunakan Vina dan suaminya tidur. Malam itu Warso yang tidur disitu. Seolah ialah suami Vina yang resmi. Paginya mereka bangun kesiangan setelah adanya bunyi telpon dari Indra. Ia di tlp suaminya yang mengabarkan bahwa Indra telah sampai di Jakarta.Sedikit basa basi Vina lalu menutup tlp itu. Tampak tubuhnya yang indah dan kulitnya yang mulus itu keletihan. Tenaganya telah terporsir malam itu. Vinapun lalu beranjak kekamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang pegal dan nyilu karena persenggamaan dengan Warso. Lalu kemudian memasak makanan karena merasa lapar. Saat itupun Warso masih tidur dikamar Vina dan setelah makanan selesai dimasa barulah ia bangun. Mereka berdua makan bersama dan tidak lupa meminum vitamin penjaga stamina.

Siang itu Vina tidak datang kekantor tempat usahanya. Vina hanya memberi perintah lewat telpon saja. Dan disiang hari itupun permainan sex antara mereka berdua kembali terulang dengan panasnya. Vina seakan tidak berdaya untuk melepaskan pengaruh pikat dan permintaan dari Warso. Meski tubuhnya merasa kurang fit untuk bersebadan. Warso tetap memiliki tenaga dan stamina yang luar biasa. Faktor umur tidak berpengaruh, mungkin karena ia selama ini terlalu lama beronani dan tidak pernah lagi merasakan kehangatan tubuh wanita. Dan obsesinyapun terkabul maka ia tidak menyia nyiakan kesempatan itu pada Vina.Iapun tidak lagi beronani jika libidonya datang. Semua obsesinya kini telah terpenuhi. Tubuh Vina yang masih segar dan muda itu tidak membuatnya bosan. Vinapun seakan tidak malu lagi pada Warso untuk minta jatah dalam hubungan sex. Terkadang ia sendiri yang mendatanggi kamar Warso dan menyerahkan tubuhnya pada sopirnya itu. Iapun sudah terbiasa untuk melakukan oral sex dan berbagai gaya yang mereka dapatkan dari buku dan video yang dimiliki Vina.

Hampir selama suaminya berada di Jakarta tiada saat tanpa persebadanan. Kini Warsopun seakan menjadi suami Vina meskipun tidak resmi dan secara kucing kucingan. Rahasia itupun tetap terjaga hingga Vina hamil dan melahirkan anak Warso. Perkawinannya pun seakan terselamatkan oleh hadirnya Warso ditengah tengah mereka. Warsopun tidak terlalu khawatir lagi akan gangguan dari pria lain sebab Vina akan terus terikat dan tidak akan lepas dari pengaruhnya. Setiap hari mereka slalu bersandiwara seoalh hubungan mereka hanyalah sebagai sopir dan tuannya, namun jika telah berdua dan lepas dari penglihatan suaminya Vina akan utuh menjadi milik Warso.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: